Kenali Siswa, Didik dengan Hati


LULUSAN SMK Farmasi Maharani memiliki tugas lebih dibandingkan lulusan SMK lainnya. Sebab, mereka disiapkan untuk menjadi tenaga kesehatan yang melayani masyarakat. Karena itulah, sekolah menerapkan metode yang pas agar lulusannya bisa bermanfaat di masyarakat sesuai keahlian yang dimiliki.
Kepala SMK Farmasi Maharani, Rahayu Ndaru Wardani, S.Si, S.Pd, menuturkan, memang tidak mudah mendidik siswa agar menjadi pribadi yang berkarakter. Apalagi, para siswa ini juga memiliki keberagaman dan heterogenitas yang menuntut guru untuk berupaya keras mendidik dengan pola yang benar. Latar belakang, watak dan kepribadian anak menjadi faktor yang sangat dipertimbangkan. Sikap melawan pada guru, kadang terjadi pada siswa yang menginjak usia remaja. Menghadapi kondisi seperti itu, ia selalu berpikir positif. Bahwa setiap anak memiliki potensi dan setiap mereka punya kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Memang harus sabar dan berusaha mencari celah untuk menyentuh hati anak-anak," ucapnya.
Menurutnya, mendidik harus dengan pola dan metode yang tepat. Kadang harus lemah lembut, namun kadang diperlukan ketegasan agar konsisten terhadap aturan.
"Di saat tertentu kita perlu tegas, tapi tetap melalui proses pendekatan pada siswa," imbuhnya.
Ndaru yakin, siswa-siswi SMK Farmasi Maharani merupakan siswa pilihan. Lulus dari sekolah di Jalan Arumba Tunggulwulung ini mereka tidak hanya sekadar bekerja, tapi mengabdikan dirinya untuk masyarakat.
"Karena profesinya memang di kesehatan yang berkaitan sama farmasi," kata dia.
Semua pekerjaan bernilai mulia, jika dikerjakan dengan tulus, sungguh-sungguh dan bermanfaat bagi orang lain. Termasuk bidang farmasi. Dikala orang sedang membutuhkan obat karena sakit, farmasilah yang mengambil peran. Oleh sebab itu, Ndaru menilai setiap anak berpotensi. Siswa SMK Farmasi Maharani semuanya bisa, tidak ada yang tidak mampu.
"Selagi anak-anak masih mau tekun berlatih dan rajin belajar, maka mereka pasti bisa," tegasnya.
Namun Ia menambahkan, untuk mencapai keberhasilan dalam proses pendidikan, guru tidak bisa sendiri. Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan.
"Bagaimana pun guru berusaha membentuk anak yang disiplin, hormat pada yang lebih tua dan mampu dalam akademiknya, tapi tidak ada dukungan dari orang tua, maka tidak akan bisa," tuturnya.
Ndaru berharap, ada sinergitas antara orang tua dan guru. Sinergi dalam pendidikan maupun program-program yang menunjang dalam akademik. "Orang tua juga perlu tahu aturan dan tata tertib sekolah. Agar bisa membantu mengingatkan pada anak saat di rumah," tandasnya. (imm/oci)

Berita Lainnya :