Kenalkan Plastik Pengganti Bata, SMKN 6 Malang Berprestasi di Malaysia


MALANG – Siswa-siswi SMK Negeri 6 Malang menorehkan prestasi di tingkat international. Ide cemerlang mereka dalam memanfaatkan barang plastik bekas sebagai bahan bangunan, mengantarkan mereka meraih medali perunggu dalam ajang International Festival of Innovation on Green Technology (I-Finog) 2019. Acara yang digelar di University Malaysia Pahang, 19 sampai 21 April lalu ini diikuti oleh 400 peserta dari berbagai negara di dunia.
Kepala SMKN 6 Malang, Drs. Sidik Priyono, M. Pd., mengungkapkan perasaan gembiranya atas prestasi anak didiknya di kancah dunia.
“Alhamdulillah kami bersyukur atas pencapaian prestasi siswa. Semua itu berkat kerjasama yang baik, termasuk peran serta orang tua yang selalu mendukung,” ucapnya.
Ia menambahkan, prestasi siswa kali ini menjadi motivasi tersendiri untuk target di tingkat internasional. Bahkan ia berencana akan kembali mengikuti lomba di Korea pada bulan Juli 2019 mendatang.
“InsyAllah kalau masuk nominasi kita akan berangkat lagi ke Korea di Bulan Juli nanti,” katanya.
Waka Humas SMKN 6 Malang Sulaiman Sulang, SS., menilai prestasi I-Finog 2019 patut dibanggakan. Mengingat merupakan prestasi internasional pertama di luar bidang lingkungan yang diraih siswa SMKN 6 Malang.
“Ini baru pertama prestasi internasional yang memacu kreatifitas anak-anak kami,” ucapnya.  
Menurutnya, para siswa yang mengikuti I-Finog merupakan siswa yang trampil dan kreatif. Sesuai karakter SMKN 6 Malang sebagai sekolah berbasis lingkungan, mereka mengajukan ide yang tertuang dalam proposal.
“Mereka membuat dinding bangunan dengan menggunakan botol plastik sebagai bentuk inovasi yang kreatif,” ungkapnya.
I-Finog merupakan agenda tahunan sebagai kompetisi internasional. SMKN 6 Malang baru kali ini mengikuti ajang lomba tersebut dengan persiapan yang tak lebih dari tiga minggu.
“Kami mendapatkan info tiga minggu sebelum pelaksanaan. Selama sisa waktu itu semuanya dipersiapkan mulai brefing, penelitian dan uji laboratorium,” terangnya.
Renaldi Susilo salah satu siswa yang ikut lomba mengatakan, ide memanfaatkan botol plastik dan bahan plastik tak lepas dari upaya untuk mendukung pemerintah Indonesia untuk mengurangi limbah plastik hingga 70 persen di tahun 2025.  
“Karena kita juga harus berperan untuk menyukseskan program  pemerintah tersebut,” kata dia.  
Renaldi dan kawan-kawannya menggunakan botol plastik berukuran 600 mililiter sebagai bahan pengganti bata untuk membangun dinding. Botol-botol tersebut diisi dengan plastik-plastik bekas yang sebelumnya telah dibersihkan, kemudian dipadatkan dengan lem dan sedikit air.  “Untuk bangunan berukuran 3 x 3 meter membutuhkan kurang lebih 800 botol yang satu dengan yang lain disambungkan dengan kawat bangunan,” jelasnya.
Sesuai hasil uji lab kekuatan untuk menahan beban dalam ukuran tersebut maksimal 85 kilo gram. Lebih dari itu dinding akan ambruk. Selisih 15 kilogram dengan kekuatan batu bata pada umumnya. “Memang bangunan botol ini tidak dirancang untuk menahan beban berat seperti pilar, tapi hanya untuk pembatas ruang saja,” terangnya.   
Selain Renaldi ada tiga siswa lain yang tergabung dalam satu tim. Mereka adalah Leonardo Benito, Fadilla Nur Azizah dan Nisrina Daiva Adara Syahputri. Dengan judul Proyek ‘Utilizing Plastic Bottle Waste To Replace Brick, mereka berlima menjadi perwakilan Jawa Timur dan berhasil menyumbangkan medali perunggu dari 15 medali yang didapat oleh 14 tim dari Indonesia. (imm/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :