KH Tholhah: Berpikir Global tapi Bergaya Lokal

 
MALANG – Membentuk generasi milenial yang berpikir global dan bergaya lokal berdasarkan islam aswaja tidaklah mudah, Prof. Dr. KH. M. Tholhah Hasan membagi tips pada mahasiswa Unisma dengan tiga pendekatan melalui bergaya lokal berdasar islam aswaja, sejarah, dan budaya. Hal ini akan penting untuk menghadapi dampak globalisasi pada gaya hidup masyarakat masa kini yakni materialistis dan hedonis. 
“Kita harus tahu, mana hal yang patut kita tiru dan tidak. Maka harus dapat memposisikan diri dalam hal kompetisi, siap bersaing secara positif untuk hal-hal yang positif,” ujar  Prof. Dr. KH. M. Tholhah Hasan dalam Studium Generale Fakultas Agama Islam Unisma.
Dia melanjutkan, seiring berjalannya waktu Aswaja yang dianut juga ikut berkembang menyesuaikan tradisi dan modernisasi. Dikalangan masyarakat Sunni ada tradisi bahwa untuk mencari ilmu tidak cukup dengan ta'allum, tapi juga harus dibarengi dengan taqarrub.
Jika dua hal itu dilakukan secara beriringan, maka akan menjadi akademisi yang bermutu. Hal ini seperti pandangan Al Ghazali, yang membagi ilmu menjadi tiga yakni Ilmu Jaaliy (ilmu katon), Ilmu Khafiy (ilmu tersembunyi), dan Ilmu Laadunniy (ilmu yang tidak disangka).
“Ciri masyarakat Global adalah masyarakat bebas hambatan, masyarakat ilmiah (scientific Society) dan serba bersaing, Dalam hal apapun mulai dari kalangan bawah sampai atas, semua serba bersaing,” tandasnya.
Tips agar menjadi akademisi yang  mudah dalam meraih ilmu, terdapat beberapa hal yang harus dihindari. Hal-hal ini yakni fudhulut tho'am, fudhulu an naum (ngebluk), fudhulul kalaam (gedabrus). Untuk membentengi diri pada zaman global dengan tidak boleh lepas dan tercerabut dari tradisi yang dimiliki, maka civitas akademika harus memiliki karakter khas dalam mengamalkan Islam Aswaja.
Dia juga menerangkan pada mahasiswa untuk mulai menerapkan puasa tiga hari yakni di hari selasa, rabu, dan kamis, agar berhasil memperoleh sesuatu terutama dalam hal menuntut ilmu.
“Kami kerap menyebutnya dengan islam nusantara, yakni islam yang masih menjaga dan menghargai budaya-budaya lokal dalam rangka mengamalkan ajaran syariatnya, Islam yang dapat beriringan dengan budaya lokal yang ada,” imbuhnya. (ita/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :