Ma Chung Ajak Maba Peduli Sosial


 
MALANG – Usai pelaksanaan pengenalan kampus (11-13/8) lalu, selama tiga minggu ke depan maba Universitas Ma Chung akan melalui kegiatan berkala setiap minggu dalam ‘Krida’. Berbeda dari tahun sebelumnya, Krida Ma Chung mengajak maba membuat mading dan ecobrick saja. Namun, tahun ini Ma Chung mengemas konsep baru meliputi mural bersama dengan tema lingkungan dan kepedulian sosial.
“Krida Ma Chung memiliki tujuan agar maba dapat saling bekerja sama dalam membuat project baru sekaligus mengedukasi mengolah barang bekas,” ujar Kepala Badan Renbang, Prita Ika Dewi kepada Malang Post, kemarin.
Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan adaptasi sisi keindahan lingkungan dari berbagai aspek. Puncak krida Ma Chung nantinya pameran karya yang akan digelar pada 21 September, mendatang. Media yang digunakan untuk mural yakni triplex dengan ukuran 144 cm x 100 cm. Maba akan mengerjakan secara berkelompok dengan sembilan tema yang disiapkan, salah satunya anti bullying.
“Setiap kelompok akan memperoleh dua media triplex dan mendesain terlebih dahulu. Sebeleumnya mereka mengikuti workshop dan didampingi komunitas zona bening,” tandasnya.
Salah satunya, Yulia Kristanti bersama 17 rekan lainnya telah mempersiapkan desain mural sejak beberapa hari lalu. Pengenalan gadget bagi remaja sebagai tema yang didapatkan timnya tak dirasa susah. Setiap jum’at dia bersama timnya menyelesaikan desain dan menampilkan yang berbeda.  
“Sesama mahasiswa baru belajar menjaga kekompakan dan kerjasama menjadi hal penting,” ungkap mahasiswa yang diterima jurusan farmasi ini.
Berbeda halnya dengan Yulia, Dinda Nur Azizah kedapatan mengerjakan ecobrick yakni perangkat mable yang terbuat dari bahan plastik. Dinda bersama 15 mahasiswa lainnya harus mengumpulkan sejumlah botol bekas khusus untuk diolah kembali.
Sampah botol bekas itu harus bersih dan kering. Didampingi dengan komunitas ecobrick, tim diajarkan teknik khusus untuk merangkai botol bekas tersebut. Terlebih antusias jika karya dipamerkan nanti.
“Seru sekali kegiatannya, karena kami dapat belajar menjaga alam dengan baik, termasuk menggunakan kembali sampah sebagai bahan mabel,” imbuh Dinda. (ita/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :