Pramuka SMPK Mardi Wiyata Jadi Kebanggaan


MALANG - Pramuka dikenal sebagai program yang efektif dalam mendidik seseorang menjadi pribadi yang disiplin, tangguh dan kreatif.  Nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam rumusan Dasa Dharma dan Tri Setya membuat Pramuka dianggap mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme dan membentuk sikap yang mulia pada diri seseorang.
Tak heran, jika dalam beberapa tahun terakhir pemerintah menetapkan Pramuka sebagai program wajib di sekolah dan masuk dalam kurikulum pendidikan. Tidak lagi menjadi program  pilihan siswa, tetapi sudah include dalam rumusan kurikulum 2013.
Untuk memaksimalkan program kepramukaan tersebut, SMPK Mardi Wiyata membuat terobosan. Sejak awal tahun ajaran baru ini, membentuk kelompok Pramuka dengan sistem reguler. Tentu saja kelompok ini bukan kelompok pramuka biasa. Dibentuk dengan anggota yang juga tidak biasa. Diharapkan Pramuka reguler ini mampu berbuat banyak hal yang positif di dalam dan di luar lingkungan sekolah. Baik dalam hal prestasi kepramukaan maupun menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai Pramuka dalam kehidupan sehari-hari.
Penanggungjawab sekaligus Pembina Pramuka SMPK Mardi Wiyata, Yoseph Banggo, S.Pd mengatakan, tim regu dari Pramuka Reguler terdiri dari siswa-siswi yang suka rela melibatkan dirinya dalam Pramuka. Sukarela artinya tidak ada paksaan. Jiwa mereka terpanggil untuk bergabung dengan Pramuka. Karena suka rela itulah maka mereka selalu siap berperan aktif di dalamnya.
Misalnya aktif di berbagai even kepramukaan, seperti lomba-lomba maupun kegiatan non kepramukaan yang digelar sekolah. Dan lebih penting dari itu, yakni aktif mengamalkan nilai-nilai kepramukaan.
"Baik itu nilai Dasa Dharma maupun  Trisatya untuk diaplikasikan dalam kehidupan," terang Yoseph.
Ia menuturkan, di SMPK Mardi Wiyata ada dua sistem pembinaan Pramuka. Yaitu Pramuka Reguler dan Pramuka Aktualisasi. Pramuka Reguler mendapat perlakuan atau pembinaan yang lebih intensif. Pramuka Aktualisasi mendapat pembinaan dua jam di hari Rabu setiap minggunya sesuai yang ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan reguler ditambah pada hari Sabtu. Maka tak heran jika Pramuka Reguler memiliki kemampuan yang lebih.
Karena memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari teman-temannya, para siswa yang tergabung dalam regu Pramuka Reguler tersebut seringkali menjadi tutor bagi teman-temannya dalam kegiatan Pramuka.
Menurut Yoseph, proses pendidikan tidak harus di kelas. Dan Pramuka menjadi salah satu sistem pendidikan non kelas yang sangat efektif dalam pembentukan karakter.
"Pramuka merupakan formulasi yang mumpuni untuk generasi muda," ungkapnya.
Regu Pramuka Reguler SMPK Mardi Wiyata terdiri dari dua regu. Putra dan putri. Seluruhnya ada 40 siswa. Hebatnya, meskipun terbilang sukarela, 40 siswa yang cinta Pramuka ini merupakan siswa-siswi hebat. Rata-rata mereka memiliki kompetensi akademik yang bagus.
Yoseph merasa bangga akan formasi regu yang dibentuknya. Tak sedikit dari mereka yang juga aktif di organisasi baik OSIS maupun UKS.
"Ternyata mereka ini adalah siswa-siswi yang dikenal disiplin, kreatif dan memiliki attitude yang bagus," tambahnya.
Dibentuknya Pramuka Reguler menjadi kesempatan bagi anggotanya untuk menambah poin di rapor karakter mereka. Sebab siswa yang aktif dalam kegiatan akan mendapat poin tambahan. Termasuk saat mengikuti perlombaan.
Rapor karakter merupakan raport yang berisi nilai-nilai kepribadian siswa. Setiap akhir tahun pelajaran guru merekap rapor tersebut untuk menentukan nilai kompetensi sosial siswa.
"Jadi kami tidak hanya melihat dari sisi akademik saja. Tetapi juga kepribadian. Adanya poin tersebut semakin memotivasi siswa untuk terus berbuat kebaikan," pungkasnya. (imm/sir/oci)

Berita Terkait