PTN Seleksi Ketat Penerima Bidikmisi


MALANG - Kuota bidikmisi di UM menurun jumlahnya, tahun ini. Jika tahun lalu mencapai seribu kursi lebih, tahun ini hanya sekitar 700 kursi. Kuota ini sudah dialokasikan kepada 239 mahasiswa yang mendaftar ke UM melalui jalur SNMPTN. Sisanya akan diberikan kepada maba yang mendaftar di jalur SBMPTN dan Mandiri.
“Tahun lalu kuota bidikmisi sebanyak 1.182, sekarang menurun hanya 780 mahasiswa. Biasanya akan ada penambahan di tahap dua seperti tahun lalu sekitar 82 mahasiswa. Semua ketentuan kuota bidikmisi tergantung dari Kemenristekdikti,” ungkap Wakil Rektor 3 UM, Dr Syamsul Hadi MPd MEd.
Seperti proses verifikasi pada umumnya, UM juga melakukan survey dengan menyiapkan tim khusus dari mahasiswa untuk mengecek data kebenaran mahasiswa bidikmisi. Namun, jumlah mahasiswa yang tidak sesuai datanya terbilang sedikit karena sudah melalui proses seleksi yang ketat.
“Kami menyiapkan tim survey dari mahasiswa, mereka bekerja melakukan verifikasi kepada mahasiswa bidikmisi sesuai dengan wilayahnya,” tuturnya.
UM juga membuka jalur prestasi yang juga disiapkan keringanan biaya berupa bebas SPPA kepada 150 mahasiswa. Mahasiswa juga harus menempuh seleksi ketat, termasuk prestasi internasional maupun nasional yang harus dimiliki.
“Ada 800 orang peminatnya, sementara yang divalidasi dan lolos sekitar 300 mahasiswa. Hal ini dilihat kredibilitasnya, termasuk dalam hal prestasi. Prestasi internasional dan nasional menjadi prioritas di jalur ini,” imbuhnya.
Sementara UIN Maliki juga melakukan seleksi ketat bagi penerima beasiswa bidikmisi. Bahkan, sebagian mahasiswa yang sudah diterima, dapat dicabut beasiswanya jika tidak sesuai dengan ketentuan.
“Tahun lalu, UIN Maliki mencabut bidikmisi yang diperoleh 29 mahasiswa. Hal ini dikarenakan faktor prestasi. Pengganti mereka adalah mahasiswa yang mendaftar tapi tidak lolos,” ujar Kabag Kemahasiswaan UIN Maliki, Abdul Aziz kepada Malang Post, kemarin.
Aziz, sapaan akrab Abdul Aziz membeberkan, sasaran program bidikmisi memang ditujukan bagi mahasiswa miskin dan berprestasi. Mahasiswa yang mendaftar bidikmisi harus siap diseleksi dari hal prestasi sebelum masuk perguruan tinggi hingga selama perkuliahan, karena mereka wajib mempertahankan nilai IPK maksimal. Saat seleksi berkas, juara internasional jadi pertimbangan prioritas, tapi prestasi lainnya pun masih dapat berpeluang, yang terpenting mereka mendapat rekomendasi dari sekolah.
“Setelah itu, selama perkuliahan mahasiswa harus mempertahankan IP minimal tiga. Saat IP di bawah tiga, akan diberi peringatan, jika lebih dari itu akan langsung dicabut. Terbukti selama ini mahasiswa bidikmisi UIN Maliki berprestasi dalam kompetisi nasional, salah satunya dua mahasiswa yang mewakili UIN MTQ PTN tingkat Nasional di Brawijaya juara pertama beberapa waktu lalu,” tandasnya.
Selain prestasi, mahasiswa bidikmisi memang harus menempuh seleksi yang ketat dalam kriteria tidak mampu. Mulai dari rekomendasi kelurahan, sekolah hingga berkas pembayaran listrik dan pajak rumah. Selanjutnya, tim survey akan melakukan verifikasi kebenaran data secara acak.
“Syarat pokok harus ditunjukkan dengan keterangan tidak mampu dari kelurahan, selain itu mahasiswa masuk harus menyertakan pembayaran listrik dan pajak rumah. Tim dari karyawan yang bertugas melakukan survey secara acak, kemudian diverifikasi,” ulasnya.
Manfaat bidikmisi bagi mahasiswa selain dapat membantu biaya perkuliahan, nantinya mereka akan mendapat program pendampingan. Dalam tiga tahun terakhir, bidikmisi dikelola Kemenag dengan ketentuan kuota 10% dari jumlah maba di PTN.
“Setiap tahun peminat bidikmisi semakin banyak, untuk kuotanya ditentukan 10% dari jumlah maba di PTN, jadi semakin banyak maba, semakin banyak kuota bidikmisi yang disiapkan. Selain itu, mahasiswa bidikmisi akan mendapat program pendampingan pembentukan karakter untuk menambah tingkat kepercayaan diri,” tuturnya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :