Racik Obat dan Kosmetik, Siswa SMK Farmasi Maharani Mumpuni


MALANG - Siswa-siswi kelas XII SMK Farmasi Maharani tampak sibuk di laboratorium. Bersama guru pendamping, mereka terlihat sangat serius dalam kegiatan praktikum. Tidak ada yang bersuara keras apalagi bercanda. Tangan-tangan mereka terlihat sudah lihai mengerjakan tugas yang telah ditentukan. Ada yang menimbang bahan, meracik dan mengemas obat. Para siswa sangat teliti dan ekstra hati-hati dalam setiap tahapan praktikum.
Memang begitu yang diajarkan pada mereka. Sedikit saja kesalahan yang terjadi maka bisa fatal. Memang ini hanya sebatas praktikum. Tapi hasil dari eksperimen dan latihan yang mereka lakukan saat ini, sangat menentukan nasib orang banyak di waktu yang akan datang.
Di kegiatan praktikum kali ini, siswa membuat beberapa jenis obat dan bahan kosmetik. Mereka meracik obat kulit dan membuat bedak kesehatan. Dengan bahan dasar sulfur ditambah camphora, siswa membuat obat yang mampu menyembuhkan jerawat. Mereka tampak serius dan hati-hati menakar bahan untuk diracik menjadi obat. Selama meracik obat dibutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi.
Guru Pembimbing Praktikum Lusia Purwidiastuti, S.Si., Apt. mengatakan, meracik obat merupakan kegiatan yang berisiko. Oleh karenanya, siswa-siswi SMK Farmasi Maharani dilatih agar profesional. Profesional yang dimaksud terkait kompetensi dan juga skill. Siswa dituntut untuk cermat dan teliti agar dalam menjalankan tugasnya  tidak sampai salah. Seperti menghitung dosis, menimbang dan meracik obat. Siswa juga harus bisa sabar untuk mendapatkan hasil yang bagus. Sebab semua itu dilakukan dengan proses yang yang tepat. "Kecermatan dan ketelitian itu harus, karena pekerjaan mereka menyangkut hidup seseorang," ucapnya.
Adapun bedak yang dibuat merupakan salah satu jenis bedak pereda gatal-gatal atau penyakit kulit. "Selama ini produk yang mereka buat berhasil. Cuma memang digunakan untuk kalangan sendiri," ujar Lusi, sapaannya.
Untuk satu obat, siswa hanya diberikan waktu 30 menit. 15 menit pertama pembuatan jurnal praktikum dan pembuatan, dan 15 menit sisanya untuk meracik obat dan pengemasan. "Menggunakan waktu harus efektif. Tidak bisa lama-lama, karena ditunggu pasien. Dalan waktu yang singkat itu juga harus cermat dan teliti, agar tidak sampai salah," tutur lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya ini
Lusi menjelaskan, para siswa diberikan ilmu dasar tentang pembuatan obat. Siswa juga diajarkan untuk melakukan pelayanan kefarmasian seperti meracik obat dari resep dokter, sampai pada pemberian KIE (komunikasi, informasi dan edukasi), tentang guna dan cara pakai obat pada pasien.
“Pengetahuan mereka akan diperkuat saat masa praktik industri atau di perguruan tinggi. Setidaknya mereka menguasai ilmu dasarnya. Sehingga kemampuan siswa mudah untuk dikembangkan," tambahnya.
Sesuai dengan konsentrasinya, SMK Farmasi Maharani mencetak lulusan andal yang siap bekerja di dunia kesehatan. Seperti rumah sakit, klinik, apotek atau perusahaan kosmetik. (imm/sir/oci)

Berita Lainnya :