Raih Doktor di Usia 28 Tahun

Dr. Dewi Cahyandari, S.H.,M.H, merupakan dosen Fakultas Hukum (FH) bagian Hukum Administrasi Negara (HAN) Universitas Brawijaya (UB) Malang. Selain berparas ayu, prestasinya juga gemilang. Dewi sapaan akrabnya berhasil meraih gelar Doktor di usia 28 tahun.
Perempuan kelahiran Malang 31 Januari 1990 silam ini memiliki motivasi besar untuk menempuh pendidikan ke jenjang tertinggi. Yakni agar semua ilmu yang didapatnya memberikan manfaat kepada masyarakat luas.
"Kebanyakan perempuan takut sekolah tinggi lantaran berbagai alasan, seperti khawatir tidak mendapat jodoh dan lain sebagainya padahal kaum wanita juga memiliki kesempatan yang sama," ujar Dewi.
Menurutnya, selagi masih muda pergunakanlah waktu sebaik mungkin untuk mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin. Ia percaya kesempatan terbaik akan datang apabila diri sendiri telah mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya.
Selama menjalani perkuliahan banyak keluh kesah yang dilaluinya. Terlebih saat menempuh S3, Dewi harus rela mengorbankan sebagian waktunya bersama sang buah hati. Namun ia cukup bisa membagi waktu antara karir dan keluarga dengan cara pulang kerja mengupayakan selalu ontime.
"Saya kuliah sambil ngurusi anak yang masih kecil jadi harus pinter bagi waktu, selagi niatnya lurus insya allah tidak ada yang susah untuk dilewati," tegas ibu satu anak ini.
Untuk menempuh pendidikan hingga jenjang S3 tersebut menurutnya ada yang harus dikorbankan, yang pasti dari segi waktu luang bersama keluarga menjadi berkurang. Namun dengan hadirnya suami, anak dan keluarga besar  yang tak henti memberi support memotivasi Dewi agar segera lulus.
Tidak butuh waktu lama, masa studi S3 yang harusnya ditempuh 4 tahun ia bisa melewatinya hanya dengan waktu 3,5 tahun dengan IPK 3.96, nyaris sempurna. Perjuangan mendapatkan nilai tersebut juga tak mudah, di mana ia harus membagi waktu pagi hingga sore di kampus, pulang jam 16.00, setelahnya mengerjakan urusan rumah tangga dan ketika sang anak tidur Dewi gunakan untuk mengerjakan disertasinya.
"Jadi waktu untuk diri sendiri berkurang, bahkan di hari Sabtu dan Minggu saya masih hunting referensi untuk disertasi hingga ke Surabaya tepatnya di kampus Ubaya dan Unair, untuk itu saya tidak ingin berlama-lama kuliah S3, kalau kelamaan kasihan keluarga," terangnya.
Lantaran untuk menempuh pendidikan hingga berada di titik ini tidaklah mudah, ia sering kali menekankan kepada mahasiswa yang diampunya untuk bersungguh-sungguh menyelesaikan kuliah. Ia juga berpesan jangan hanya mengejar pintar melainkan sebagai generasi terdidik juhga harus memiliki etika dan kesopanan dalam menuntut ilmu.
Dalam melalukan tugas sebagai mahasiswa yang dikejar tidak hanya ilmu untuk pintar namun juga keberkahan. Apabila apa yang diraih berkah dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa maka segala ilmu akan memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Kunci lainnya adalah serius.
Sejauh ini meskipun mahasiswa yang diajarnya dari segi usia tidak jauh berbeda namun tidak ada satupun muridnya yang berlaku tidak sopan atau tidak menghargainya. Dewi memiliki cara khusus agar materi yang disampaikan dapat dipahami yakni dengan masuk ke dunia anak zaman sekarang. Tak jarang di sela-sela perkuliahan ia memecah ketegangan dengan gurauan kekinian.
"Apa yang sedang viral kadang saya lempar ke kelas untuk dianalisa bersama, sehingga tanpa disadari saya menjadi teman mereka dan mahasiswa pun merasa didengarkan," terangnya.
Sebagai dosen muda, Dewi berupaya menempatkan dirinya sebagai fasilitator, serta teman diskusi sehingga mahasiswa menghormatinya. Dalam mengajar kerap kali ia memposisikan dirinya ketika menjadi mahasiwa, bagaimana beban mereka sehingga mau tidak mau harus mengikuti perkembangan anak zaman sekarang.
Apabila dosen memberikan sikap otoriter mahasiswa tidak akan merasa nyaman di kelas. Namun jangan melupakan memberi pengertian kepada mereka antara guru dan murid harus ada etika.
"Saya beri pengertian dengan contoh, dengan begitu mereka akan menghormati saya," terangnya.
Bidang hukum yang kini digelutinya bukan tanpa sebab. Ya, sejak kecil Dewi sudah akrab dengan ilmu hukum bahkan tidak asing dengan istilah-istilah dan pemahaman dalam dunia hukum terus berkembang. Oleh karena itulah ia kini mengikuti jejak sang ayah untuk ikut terjun menjadi dosen bidang hukum.
"Usai menempuh gelar doktor saya ingin menjadi guru besar, saat ini saya mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dan mencari bahan untuk mengarah ke profesor, targetnya minimal 10 tahun lagi sudah profesor karena saat ini saya masih sebagai Asisten Ahli," pungkas Dewi.(lin/ary)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :