Saya Akan Mengabdi Hingga Akhir Hayat


DEKAN Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. dr. Bambang Pardjianto, Sp.B.,Sp.BP-RE(K) merupakan salah satu Dokter bedah plastik pelopor dan senior di Malang. Di usia 75 tahun, ia masih terus eksis baik itu di bidang Pendidikan Kedokteran maupun secara keilmuan praktis hingga saat ini.
“Saya akan terus mengabdi di bidang ini hingga akhir hayat,” ujar pria yang akan berulang tahun 17 Februari, besok.
Jabatan Dekan di FKIK UIN Maliki diembannya pada 2017 lalu, ketika usianya menginjak 73 tahun. Ketika ditanya alasannya masih terus berkarir meski sudah menginjak usia lanjut, menurutnya ia sudah terbiasa beraktivitas penuh sejak dulu.
“Karena rutinitas sebagai dokter sudah melekat pada diri saya sejak muda, jadi saya tidak terbiasa kalau hanya untuk diam di rumah,” ungkap suami dari Dr. R.A.Y Siti Lintang Kawuryan Sp.A tersebut.
Sejak dulu, Bambang telah menaruh minat besar di bidang bedah plastik, itulah yang mendorongnya untuk menggeluti bidang Bedah Plastik, hingga meraih gelar Guru Besar di Universitas Brawijaya pada tahun 2008.
“Ketika itu masih belum banyak Dokter yang mengambil bidang bedah plastik, karena masa itu memang masih banyak kendalanya, saya saja mempelajari itu harus ke UI,” terang pria yang gemar menikmati keindahan alam itu.
Ia menyampaikan bahwa bedah plastik terbagi menjadi dua bagian, yaitu bedah plastik estetik (kecantikan) dan bedah plastik rekonstruksi (memperbaiki cacat bawaan dan akibat kecelakaan). Bedah plastik rekonstruksi lebih cenderung sering  dilakukan. Namun bedah plastik estetik juga tak kalah sering ia lakukan. Menurutnya bedah plastik estetik yang sering ia tangani adalah pada bagian hidung dan mata
“Saya lebih cenderung menangani bedah plastik rekonstruksi, umumnya dialami oleh korban kecelakaan ekstrem,” jelasnya.
Setelah puluhan tahun malang melintang pada bidang Bedah Plastik berbagai kasus pasien telah ia tangani. Namun ketika ditanya mengenai kasus terumit dan tersulit, menurutnya semuanya rumit dan sulit.
“Untuk bedah plastik semuanya rumit dan butuh ketelitian tinggi baik itu yang rekonstruksi maupun estetik,” ungkap pria yang juga gemar minum kopi tersebut.