magista scarpe da calcio Unisma Siapkan Perusahaan Obat Herbal


Unisma Siapkan Perusahaan Obat Herbal

 
MALANG – Salah satu hal yang masih menjadi permasalah kesehatan di Indonesia, yakni adanya dikotomi di masyarakat antara obat kimia dan obat herbal. Padahal, dua jenis pengobatan tersebut tidak untuk dipertentangkan satu sama lain.
“Apabila membicarakan mengenai keanekaragaman hayati, maka arahnya adalah pada pengobatan herbal. Posisinya harus ditentukan oleh khasiat dan pengetahuan mengenai obat ini,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Unisma, Dr. dr Hardadi Airlangga SpDD dalam Seminar Nasional Obat Herbal di Unisma, kemarin (11/10).
Obat herbal memiliki keuntungan yakni telah digunakan terlebih dahulu oleh nenek moyang, bangsa Indonesia. Sehingga, kini dari kalangan akademisi hanya tinggal meneliti untuk kemudian dipaparkan atau melakukan pendampingan kepada masyarakat mengenai penggunaannya. Hardadi menjelaskan, obat herbal digunakan sebagi pendamping, yakni membuat tubuh menjadi kondusif.
“Obat herbal ini pada pencegahan dan pendampingam. Misalnya ada obat-obat tertentu untuk memperbaiki daya tahan tubuh. Pada penyakit kanker stadium akhir, salah satunya, obat herbal akan membuat perut pasien lebih nyaman, walaupun dalam proses sedang ada penurunan fungsi organ karena penyakit tersebut,” sambungnya.
Dalam seminar ini, diharapkan adanya pengerucutan penelitian obat-obatan dari tanaman herbal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, terlebih bila adanya perhatian dari pemerintah.
Kepala Balai Besar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Prof. Dr. Ir. Risfaheri, M.SI mengatakan, untuk saat ini dalam industri obat herbal masih terkendala pada ketersediaan bahan herbal. Saat ini, 30 persen bahan diperoleh dari budidaya sedangkan sisianya didapat dari hasil hutan.
“Bila mengandalkan pasokan dari hutan, maka akan berpengaruh pada kontinyuitas, kualitas dan ketepastan waktu. Bila suplai bahanbaku tidak terjamin, maka industri bisa tutup. Terlebih, sekarang pola pengelolaan obat herbal masih bersifat tradisional,” katanya.
Untuk itu, diharapkan peran serta pemerintah dalam edukasi. Salah satunya melalui edukasi mengenai regenerasi hasil hutan untuk menjamin pasokan bahan baku.
Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si mengatakan Pokjanasto ini sangat strategis untuk membangun kecintaan terhadap sumber daya alam Indonesia terutama pada keragaman hayati tanaman obat. Untuk itu, dirinya akan mendorong forum untuk menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah untuk pendanaan yang bersifat kompetitif dan fokus pada pengembangan obat herbal.
“Balai Besar Tawangmangu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan, termasuk Unisma sendiri sudah mencanangkan program keanekaragaman hayati melalui penyediaan lahan yang cukup luas, antara 15 sampai 20 hektar,” ujarnya.
Nantinya, sebagai bagian dari perhatian Unisma pada keanekaragaman hayati yang memiliki khasiat, salah satunya akan didirikan perusahaan obat herbal Unisma.Mashuri juga menjelaskan di lokasi tersebut juga akan ada kolaborasi dengan pihak akademi, kesehatan, pariwisata dan kelautan. Saat ini, program tersebut masih berada dalam tahapan proses pembebasan lahan. (ras/oci)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang