Cinta Aremania Patahkan Logika


Halo ker! Yaopo kabar e umak? Arema yang hadir sejak tahun 1987, sekarang sudah genap menginjak usia 32 tahun. Hari ulang tahun Arema sendiri, jatuh Minggu (11/8/19). Barisan Aremania maupun Aremanita yang didominasi kawula muda, membuat banyak kisah menarik yang disajikan. Bahkan, kecintaan mendukung Arema sampai-sampai mematahkan logika, karena nyawa bisa jadi taruhan.
Seperti yang dilakukan genzier Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hanin Irhan. Ia mulai mendukung Arema di stadion, sejak kelas dua SD. Pengalaman yang mendebarkan pernah dialaminya ketika melakukan tour ke Stadion Tri Dharma, Gresik. Ketika mendukung Arema melawan tuan rumah Persegres.
“Waktu away ke Gresik tahun 2013 adalah momen paling nekat yang pernah kualami.  Pada saat itu, berangkat dari Malang berempat, menggunakan kendaraan pribadi. Momen itu tidak bisa dilupakan, karena pas ada kericuhan antara Aremania sama Bonek setelah pertandingan,” jelasnya.
Jarak yang relatif dekat antara Gresik dan Surabaya, tidak membuat nyalinya ciut. Karena baginya, Arema adalah klub sepak bola yang ia cintai sejak kecil. Sehingga berani mengenyampingkan risiko yang bakal didapat.
“Bagiku Arema itu persaudaraan, cinta, kasih sayang, harga diri dan kebanggaan,” terangnya.
Lain halnya dengan Faris Iqbal Rizaldy, genzier asal Malang yang sekarang menjadi mahasiswa baru di salah satu kampus negeri di Surabaya. Mengaku menjadi Aremania yang datang ke stadion sejak kelas tiga SD. Dirinya mengaku selalu ingin menemani Arema kemanapun bertanding. Walaupun dalam kondisi sendiri, ketika mau berangkat mendukung di tribun stadion. Karena mengaku cinta, dan tidak ingin ketinggalan momen-momen saat pertandingan Arema dari dalam stadion.
“Waktu masih SMP dulu pernah lihat Arema sendiri dari Jombang ke Malang main di Stadion Kanjuruhan. Terus waktu berangkat away ke Jakarta kemarin ya sendirian. Aku membernikan diri karena memang senang pada Arema. Serta teman-teman banyak yang berhalangan. Akan tetapi sampai disana ya nambah saudara, jadi kenal satu sama lain,” ungkapnya.
Dirinya juga mengungkapkan banyak hal-hal yang sensasional, ketika mendukung Arema langsung di stadion dibandingkan di depan layar kaca.
“Sensasinya jadi berbeda dong, soalnya di stadion lebih seru mendukung bersama-sama untuk tim kebanggaan, dan enaknya kalau di stadion bisa menambah teman saling silaturahmi satu sama lain, untuk mempererat persaudaraan,” tambahnya.
Lalu ada juga kisah dari Mochamad Iklil Abyan Khoir Genzier asal SMA Islam Sabilillah Malang. Ia menjadi saksi hidup pada kerusuhan saat pertandingan Arema FC melawan Persib Bandung di stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, pada (15/4/18). Ceritanya, waktu itu Arema yang gagal raih poin penuh, membuat geram para Aremania. Hingga ribuan Aremania melakukan protes ke dalam lapangan, guna mengkritik kepada manajemen, atas penampilan buruk Arema. Hal itu membuat aparat menembakkan gas air mata, untuk mengendalikan situasi. Sehingga membuat panik para suporter untuk menghindari gas air mata tersebut. Hingga berdesak-desak dan saling terinjak-injak satu sama lain. Peristiwa kelam tersebut dikenang sebagai ‘Kanjuruhan Disaster’. “Sangat seru dapat mendukung langsung tim kebanggaan dengan menyanyi yel-yel kebanggaan khas Arek Malang di dalam stadion. Ada pengalamanku yang paling ‘heorik’. Pada saat Arema bermain imbang lawan Persib Bandung, nekat panjat pagar tribun yang tinggi, untuk turun ke lapangan dan melakukan protes ke manajemen Arema. Karena Arema adalah harga diri,” tandasnya.
Begitulah kecintaan beberapa genzier pada tim Arema. Bukan hanya demi eksistensi, popularitas, atau pengakuan. Menjadi Aremania adalah panggilan jiwa yang tidak bisa dipaksa ataupun dihalangi. Greeting One Soul! (*/oci)