Come and Go…


 
Kehilangan seseorang memang berat ya gengs. Entah itu sahabat yang pindah ke luar kota, putus dengan pacar, atau bahkan seseorang yang kita sayangi  meninggal dunia. Sejak awal emang sih kita selalu diajarkan untuk siap kehilangan karena pada dasarnya apapun yang ada di dunia ini nggak ada yang abadi. Tetep aja kita sedih banget kalo ada seseorang yang kita sayangi tiba-tiba nggak ada.
Meski begitu, sedihnya jangan berlarut-larut ya gengs. Karena pada saatnya yang hilang akan berganti dengan kebahagiaan lain yang datang. Selalu ada ribuan bahkan jutaan pengganti kebahagiaan lain yang bisa kamu dapetin setelah menghadapi beratnya kehilangan.
Kalau kamu masih nggak percaya nih, kru GenZi sukses mengumpulkan pengalaman menarik dari GenZier. Salah satunya datang dari temen kita GenZier asal SMAN 3 Malang, Safir Aksel. Pernah kehilangan sahabatnya saat di sekolah dasar membuatnya sempat sedih dan anti sosial.
“Dulu saat SD aku punya sahabat yang udah kayak adek. Ke mana-mana bareng, duduk selalu sebangku. Eh pas kelas 5 dia meninggal kena leukimia,” ujarnya sedih.
Saat kondisi sahabatnya kritis, Safir sering banget menjenguk sahabatnya ini. Hingga akhirnya orangtuanya memberi kabar saat pulang sekolah bahwa sahabatnya telah tiada.
“Sempet shock nggak karuan waktu itu. Masih kecil kayak udah diajarin sama Tuhan arti kehilangan. Aku orangnya susah bergaul, selama ini cuma sama dia aja deketnya, dan kemudian dia pergi selamanya,” jelasnya.
Berbulan-bulan kemudian Safir menjalani rutinitasnya di sekolah tanpa kehadiran sosok sahabatnya. Hingga saat naik kelas 6 SD, ia bertemu dengan seorang anak pindahan dari Bali. Gadis kecil itulah yang kemudian hingga kini menjadi sahabatnya. Seketika Safir merasa bahwa Tuhan telah menggantikan sahabatnya yang telah tiada dengan sosok yang periang itu.
“Dari SD sampai sekarang kita sahabatan. Mama papa juga tau dan seneng liatnya. Nggak cuma baik, dia juga pinter dan sering ngajak belajar bareng. Ngajarin aku bergaul juga dan akhirnya sampe SMA ini kita sahabatan jadi nggak berdua tapi bertiga karena dia humble bergaul dan akunya ketularan. Aku sekarang jadi banyak temen, nggak banyak banget tapi udah nggak kesepian lagi. Meskipun udah bahagia, aku tetep nggak akan lupain sahabat yang udah di surga itu,” terangnya.
Secara psikologis, kehilangan seseorang memang dapat memicu stres hingga timbul sifat anti sosial. Selain itu juga kehilangan bisa membuat seseorang jadi minder loh gengs. Maka dari itu ketika ada temanmu yang kehilangan seseorang, kamu harus kasih semangat. Kamu yang sekarang lagi kehilangan juga harus gitu gengs, bangkit dong. Kamu harus buktiin kalimat mati satu tumbuh seribu. Beribu kebahagiaan lagi nunggu kamu.
Cerita lain datang dari GenZier asal Universitas Negeri Malang, Linda Amalia Putri. Nah kalau yang ini level kehilangannya agak ngeri sih. Udah siap dilamar sang kekasih, eh taunya si mas gantengnya batalin lamaran dan berpaling ke cewek lain.
“Waktu itu sih down banget lah pastinya. Orangtua juga udah dibilangin tanggal ngelamarnya, eh nggak tahunya dia batalin gitu aja. Sebel sih. Tapi aku yakin masih banyak pilihan lain yang menantiku,” ucapnya tegar.
Benar saja, tiga bulan kemudian ada seorang hafidz Alquran yang tertarik loh sama si Linda. Nggak cuma itu, banyak cowok di kampusnya yang mulai ngedeketin dia.
“Yes right, mati satu tumbuh seribu. Tapi aku akhirnya nanggepin sinyal si hafidz quran aja. Nggak lama setelah kenal, dia ngajak married. Beberapa minggu lagi dia ke rumah bawa orangtuanya. Doain ajalah hahahaha,” ujarnya berbinar.
So? Masih mau galau meratapi satu orang yang bikin kamu galau nyeri ulu hati? Mending dari sekarang kamu mulai memotivasi diri untuk jadi lebih baik. Kalau udah bisa bangkit nih, kebahagiaan bakal datang silih berganti. Jangan terlalu larut dalam kesedihan gengs, nggak baik buat kesehatan. Move on! Ingat, mati satu tumbuh seribu,dia pergi datang yang baru, hehehe. (*/nda)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :