Jempolmu Harimaumu, Watch Out!


GENZI - KEMAJUAN teknologi informasi memang nggak bisa dihindari, akan tetapi kecanggihannya juga harus diimbangi dengan kemajuan berpikir masing-masing pribadi ya gaes. Media sosial adalah salah satu bukti kemajuan teknologi informasi yang saat ini nggak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari tua, muda hingga anak-anak saat ini memiliki media sosial, bahkan nggak cuma satu. Instagram, whatsaap, facebook, line bisa  dipastikan terinstall di gadget setiap remaja.
Mirisnya, media sosial yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk berbagi informasi dan mempermudah komunikasi justru disalahgunakan oleh anak-anak akibat minimnya pengetahuan dan juga dorongan untuk eksis. siapa sih yang nggak kenal "Bowo Alphenlible"? Dia adalah salah satu siswa SMP yang belakangan ini menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Bukan karena sebuah prestasi, melainkan karena aksinya di salah satu aplikasi video dubbing yang menimbulkan pro kontra dan aksi bullying oleh netizen. Aksi tersebut menjadi salah satu contoh penggunaan media sosial yang nggak tepat lebih-lebih untuk anak di bawah umur.
Dampak dari bermedia sosial saat ini  nggak lagi dirasakan di dunia maya aja ya guys, bahkan juga berimbas ke kehidupan nyata. Salah satu GenZier, Shanina Alvi Amalia mengungkapkan jika media sosial memang wadah untuk mengekspresikan diri, tapi semua tindakannya harus memiliki batas. "Nggak semua hal bisa kita post di medsos. Kayak curhat, berdo'a atau marah menurutku nggak perlu. Mending langsung aja dilakukan di dunia nyata,"jelas siswa SMAN 10 Malang ini.
Avi sapaan akabnya juga memiliki media sosial, namun seiring bertambahnya usia ia bisa mengendalikan diri dan memfilter hal-hal yang perlu dibagikan di media sosial. Sama halnya dengan kebanyakan GenZier lainnya, setiap remaja pasti pernah berada pada masa "alay" tetapi tetap harus dalam kontrol.
"Nggak munafik kok, aku juga pernah alay, tapi berkat membaca informasi dan juga peringatan dari kakak dan orang tua, aku nggak sampai ikut-ikutan sesuatu yang sedang viral tetapi itu negatif banget," sambungnya.
GenZier lainnya yang juga berusaha menggunakan media sosialnya dengan tepat adalah Ade Yovan Pratama. Meskipun ia merasa selalu ingin update segala sesuatu yang dilakukan temannya, Yovan lebih memilih untuk menyimpan file tersebut untuk dirinya sendiri. “Meskipun cowok, aku juga punya kok aplikasi kayak Tik Tok gitu, tapi karena nggak suka dibilang alay sama temen-temen kalau sampai di posting, jadi mending aku simpan aja,” jelas siswa SMPN 14 Malang tersebut.
Pada dasarnya aplikasi live video dan sejenisnya memang untuk hiburan dan lebih untuk kepentingan pribadi ya gengs. Jadi jangan sampai hanya karena ingin dianggap di media sosial kita melupakan norma, kesopanan dan juga harga diri ya. (*/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :