Karantina Seru di TBI dan Kaliwatu


BATU - Masa karantina menjadi pengalaman istimewa bagi 30 finalis Putri Kartini Malang Post. Betapa tidak, mereka mendapat banyak pengalaman baru dan tentu saja cerita seru selama dua hari karantina.
Kemarin, kegiatan karantina diawali dengan pemberian materi public speaking yang cukup mengasikkan. Materi utuk melatih kemahiran berbicara di depan publik ini, dibimbing oleh guru profesional dari The British Institute (TBI). Dalam durasi dua jam tersebut, 30 finalis dibimbing materi public speaking dalam bahasa Inggris dengan sentuhan game yang membuat mereka mudah menerima penjelasan.
Direktur TBI, Dwi Kurniawati mengatakan bahwa bahasa Inggris sangat penting untuk masa depan dan juga sebagai skill yang menunjang untuk karir. “Mumpung masih SMA, kalian harus membekali diri dengan bahasa Inggris karena ini merupakan bahasa internasional,” ucapnya kepada seluruh finalis.
Tidak hanya sekadar menyimak materi, peserta pun diajak memainkan sebuah game yang melatih kekayaan kosa kata bahasa Inggris. Salah satunya adalah game yang mewajibkan setiap kelompok untuk menuliskan kosa kata sifat di papan tulis.
“Tiap anggota kelompok harus menuliskan kosakata dan beradu saling cepat, siapa yang terbanyak, merekalah kelompok yang terhebat. Pemberian materi ini sangat bermanfaat, nggak menjenuhkan, tapi jusru menyenangkan dan menambah wawasan,” urai salah satu finalis asal SMAN 2 Malang, Alifia Putri.
Di akhir pertemuan yang berlangsung dua jam tersebut, para finalis harus menyelesaikan tes bahasa Inggris. Sehingga mereka ke depannya diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrs mereka.
Usai menerima materi dan menjalani tes bahasa Inggris, peserta berangkat menuju Apple Sun Learning Center, untuk menjalani rangkaian karantina selanjutnya. Dengan wajah yang sumringah, mereka melambaikan tangan pada keluarga masing-masing saat masuk kedalam bus yang disiapkan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Sendau gurau pun bersahutan kala mereka berada dalam perjalanan menuju lokasi karantina.
Tepat pukul 13.00 WIB, peserta tiba di lokasi karantina yakni Apple Sun Learning Centre. Sejumlah kegiatan sudah menunggu, termasuk agenda istimewa yang akan menantang adrenalin para finalis yakni rafting bersama Kaliwatu di hari kedua.
Usai salat dhuhur dan makan siang, finalis mengikuti kegiatan diskusi penyusunan program kerja. Selama diskusi tersebut, ada kurang lebih 13 inovasi yang mereka buat. Salah satunya adalah kegiatan sosial penanganan kanker serviks dan HIV yang dismpaikan oleh finalis asal SMAN  Malang, Melvina Florens.
“Jadi kami ingin membuat sebuah pogram penyuluhan kanker serviks dan HIV/AIDS dengan cara menggandeng lembaga kesehatan seperti rumah sakit, maupun komunitas kesehatan atau kampus di kota Malang,” jelasnya.
Setelah melakukan diskusi yang diisi dengan bahasan kaya ide kreatif tersebut, peserta memakai gaun malam. Gaun malam ini, digunakan untuk sesi interview finalis.
Menurut Ketua Panitia Putri Kartini 2018, Adinda Zaeni, sesi ini untuk melihat seberapa jauh kemampuan mengeluarkan argumen dan berbahasa mereka. “Interview ini juga membahas seputar komitmen mereka kedepannya saat menjabat sebagai putri kartini nanti,” paparnya.
Malam harinya, yang tak kalah seru adalah sesi hypnosis dan character building yang dipandu tim Apple Sun Learning Center, Kaliwatu Group. Kegiatan hypnosis diberikan untuk menilai seberapa tinggi tingkat kosentrasi peserta dalam melihat sesuatu.
Karantina hari pertama ditutup dengan acara malam keakraban yang diwarnai dengan tawa para finalis. Seluruh finalis yang telah dibentuk menjadi enam grup, satu-persatu menampilkan bakat mereka di hadapan panitia dan teman-temannya. Dinginnya Kota Batu malam kemarin tak terasa karena kehangatan dari keakraban yang diciptakan keluarga Putri Kartini 2018 malam kemarin. (gz1/oci/ary)

Berita Lainnya :

loading...