Nostalgia dengan Analog Kamera

 
FUJIFILM Q Cam milik sang Ayah menjadi awal kecintaan Arief Wicaksana Agatin Putra, mahasiswa FISIP Psikologi Universitas Brawijaya (UB) dengan kamera film. Kala itu, ia berusaha mencari penjual roll film dan beruntung bisa menemukannya. 
“Akhirnya nemu penjual roll film, tapi dia menjual dengan harga mahal, meskipun Awalnya aku kira itu adalah harga normal. Setelah aku pakai satu roll, ternyata hasilnya mantap dan keterusan sampai sekarang," kata mahasiswa asal Yogyakarta ini. 
Hasil jepretan yang klasik dan bernuansa nostalgia, dirasakan Arif dengan kamera analognya. Meskipun sebenarnya, efek tersebut juga bisa didapatkan dengan aplikasi edit seperti photoshop, VSCO, dan lainnya.Dengan kamera analog, gak perlu edit pakai filter apapun, namun kita tinggal milih roll film apa yang ingin kita pakai. Karena setiap roll itu punya ciri khas masing-masing. Ada yang lebih condong ke hijau, kuning, merah bahkan ada yang warna biru.
Meski, dibalik kerennya hasil dari kamera analog, ada banyak dana yang dikeluarkan. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa kamera analog lebih boros dari digital.
"Kalau pakai analog, aku bisa mendapatkan banyak manfaat yang sebelumnya sering  kulupakan, yaitu menghargai sebuah proses. Dengan bermain analog aku jadi lebih berhati-hati dalam memotret dan ada rencana dari tiap roll film yang aku beli untuk memotret apa. Dan hal tersebut berpengaruh saat aku memakai kamera digital, jadi tidak buang-buang frame yang sekirannya tidak perlu," jelas Arif.
Meskipun begitu, hasil foto dari proses kimia memiliki rasa yang lebih daripada hasil foto dari kamera digital.
"Tentunya secara rasa berbeda hasil yang didapat dari hasil kamera analog dengan digital. Namun tidak dapat dipungkiri dengan postpro hasil digital saat ini pun bisa dibuat sama persis dengan hasil dari analog dan itu kembali pada pilihan sang fotografer," pungkas mahasiswa jurusan Psikologi ini. 
Walaupun prosesnya yang rumit dan bikin penasaran, harga dari kamera analog tidak setinggi kamera digital. Namun, pengguna kamera analog terkadang tidak sadar akan potensi masing-masing kamera yang mereka punya, itulah yang dikatakan oleh Yusi Yuansa dari MAN 2 Kota Malang.
"Aku sendiri kamera pertama dapat dari pasar comboran seharga Rp 30 ribu, sayang banget sih buat teman-teman yang mampu beli kamera analog yang bagus dan termasuk mahal kalau nggak di eksplor fitur-fitur yang nggak ada di kamera Rp 30 ribu ku," Kata Yusi sambil tertawa. (*/oci)

Berita Lainnya :