Belajar Filosofi Gerak Tari


MALANG POST - BUAH jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah kiprah Gita Maharani Swastika yang menekuni  kesenian tari tradisonal. Gita mulai menari sejak kecil karena orang tuanya merupakan penari.
"Dari kecil aku suka dan mulai menari. Itu karena ayah ku menekuni kesenian gamelan, begitu juga ibu dulu penari tradisonal," ujar perempuan kelahiran Malang, 15 Juli 1996 ini.
Dari lingkungan penari, Gita pun terdorong untuk aktif dan terus belajar berbagai seni tari tradisional. Tak hanya itu, seiring berjalannya waktu ia merasa bahwa setiap gerak tari membuatnya belajar sejarah hingga filosofinya.
"Sehingga mampu memahami dan menghargai makna tiap gerak bagi kehidupan hingga nilai sosial budaya masyarakat kita," bebernya.
Bahkan, dari sering diundang untuk mengisi berbagai acara seremonial di berbagai lembaga, ia bisa meringankan beban orang tuanya. Minimal punya uang jajan sendiri.
Untuk prestasi, Gita pernah meraih juara III lomba tari berpasangan yang diadakan Dinas Pendidikan Kota Batu saat mewakili SMAK Yos Sudarso Batu
Ia punya cita-cita luhur untuk bisa menularkan kemampuan seni tari kepada generasi muda Kota Batu. "Kedepan saya ingin memupuk generasi muda mulai tingkat sekolah dasar agar lebih banyak yang mencintai dan mau belajar kesenian tradisional melalui seni tari," pungkasnya. (eri/van)

Berita Lainnya :