Feminis yang Berwirausaha


MALANG - Perempuan ini memilih untuk merintis usaha sendiri usai menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Malang. Ia adalah Raisa Izzhaty perempuan kelahiran Bondowoso yang kini memiliki usaha bidang kayu interior @kadjeng.craft  yang omsetnya sudah mencapai Rp. 10 juta – Rp 15 juta per bulan.
“Pada dasarnya saya nggak suka kerja di kantor, Saya ingin miliki penghasilan tapi tetap tidak gunakan alasan sibuk ketika diajak hang out dengan teman,” katanya.
Usaha tersebut ia rintis sendiri yang kemudian dibantu oleh designer yang merancang custom dari pembeli. Selanjutnya untuk pengerjaan dilakukan oleh tukang kayu berpengalaman yang ada di Malang. Untuk target pemasarannya ditujukan pada kafe-kafe hingga ke anak kos juga.
Meskipun pada awalnya ia sempat mendapat berbagai kendala dalam memulai usahanya, seperti peralatan yang kurang memadai. Sedang satu unit alat yang dibutuhkan harganya mencapai Rp 3 juta, yang pada akhirnya ketika itu memilih untuk meminjam tambahan modal ke orang tuanya.
Hal tersebut hanya salah satu dari kendala yang ia hadapi pada awal mula merintis usahanya. Namun, perempuan yang pernah memenangi lomba cerpen tingkat Jawa Timur pada tahun 2016 tersebut memilih untuk tidak menyerah dan menyelesaikan tantangan yang dihadapi.
“Saya suka menantang diri sendiri, dan juga mengerjakan apa yang tidak dikerjakan oleh orang lain,” lanjutnya.
Selain aktif dalam kegiatan berwirausaha, ternyata Raisa merupakan seorang aktivis yang peduli terhadap isu pemberdayaan perempuan. Ia sendiri saat ini menjadi bagian dari struktur organisasi yang peduli terhadap perempuan yaitu ‘resister’.
Sejak tahun 2018, tak jarang ia menjadi pembicara dalam berbagai forum maupun workshop terkait dengan topic Ekofeminisme di Malang. Oleh karenanya, ia tak segan disebut sebagai seorang feminis yang memperjuangkan hak-hak dari perempuan.
Sebagai seorang feminis yang gemar menulis dalam waktu dekat ia bahkan telah merencanakan untuk menerbitkan buku terkait perlawanan perempuan. Gagasan tersebut muncul ketika ia mulai banyak mengetahui problem yang dialami perempuan sejak bergabung dengan resister.
Lebih khusus, ia juga menyampaikan bahwa nantinya isi dari buku karyanya adalah berisi tentang kekerasan, persaingan antar perempuan, pelecehan, sampai ketidak adilan yang terstruktur bagi perempuan.
Kemudian menurutnya, target dari pembuatan buku ini adalah bagi semua perempuan yang memiliki problematika dan memberi gambaran bahwa mereka tidak sendiri dan tidak perlu lagi takut dalam menghadapi persoalan tersebut.
“Saya ingin perempuan di luar sana yang nantinya membaca buku saya tahu bahwa mereka tidak sendiri,” pungkasnya.
Sejauh ini, apa yang dilakukannya terinspirasi dari sosok Nawal El Saddawi sebagai seorang pemikir perempuan, penulis dan juga feminis muslim.
 Oleh karenanya, hingga saat ini Raisa sangat fokus terhadap berbagai persoalan perempuan seperti kekerasan, persaingan antar perempuan, pelecehan, hingga juga terkait  ketidak adilan yang terstruktur terhadap perempuan.(mg3/ary)

Berita Lainnya :