Jadi Guru, Bagi Waktu

 
Memiliki prestasi olahraga, merupakan kebanggaan tersendiri bagi atlet. Apalagi dari prestasi tersebut, menghantarnya jadi pelatih atau atlet profesional. Seperti yang dialami Nurul Hidayati, atlet jalan cepat Kabupaten Malang ini terbilang sukses dengan berbagai prestasinya.
"Waktu saya masih duduk di bangku SMP, itu merupakan pengalaman pertama saya dalam meraih prestasi di cabor atletik. Untuk kemudian menjadi pelecut saya untuk meraih prestasi lebih baik di tingkat yang lebih tinggi," ujar Nurul yang memulai karirnya di usia 14 tahun.
Melalui even yang digelar Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi), pengalaman pertama Nurul adalah Juara I Perwosi usia dini tahun 2008. Disusul prestasi lainnya,  
Juara I Jatim sprint tahun 2019, Juara I Popda tahun 2010, Juara I Kejurnas remaja tahun 2011 dan masih banyak lagi prestasinya.
"Meski sibuk latihan dan ikut perlombaan, saya sempatkan mengejar pendidikan untuk meraih cita-cita sebagai dosen. Dulu juga sempet jadi asisten dosen, terus karena sibuk latihan jadi gak bisa berlanjut," ungkap atlet yang melanjutkan pendidikan S1 Jurusan PJKR di IKIP Budi Utomo ini.
Dia mengaku tidak pernah menyesal karena gagal raih cita-citanya sebagai dosen. Sebagai gantinya, saat ini ia menjadi guru olahraga dan sudah dua tahun mengajar di SDIT Permata Hati. Selain menjadi guru, ia juga dimintai bantuan pelatihnya untuk melatih atlet-atlet yang masih remaja. 
"Dengan banyaknya pekerjaan saat ini, saya harus bisa membagi waktu, karena sudah menjadi ibu rumah tangga dan akan menjadi calon ibu," terang perempuan yang baru menikah bulan januari 2017 lalu.
Kini konsen sebagai guru olahraga, ia berharap bisa mencetak atlet-atlet muda Kabupaten Malang. "Untuk mendidik anak-anak satu kunci yang selalu saya pegang dan terapkan, yakni disiplin, karena sesuatu yang didasari dengan displin, akan tertata rapi dan terlaksana dengan baik," pungkas perempuan kelahiran Malang, 10 Januari 1994 ini. (eri/bua)

Berita Lainnya :