Ketularan Disiplin

FOTO: Prisela for Malang Post

Sebagai generasi muda, Prisela Dwi Ariesta memiliki kesibukan yang luar biasa. Bagaimana tidak, sehari-hari ia mendampingi Ketua TP PKK Kota Malang Hj. Widayati Sutiaji kemanapun bertugas.

Bisnis dari Nol


Masyarakat Malang terutama kawula muda tentu sudah tak asing lagi dengan Cotton Inc, Keylabs Coffe, Astep Bistro, dan Sate Taichan Goreng. Semua tempat tongkrongan hits tersebut dirintis oleh dara muda bernama Sarah Keihl.
Tak hanya malang melintang dalam dunia bisnis, Sarah juga memiliki paras sangat cantik. Tak ayal, dara kelahiran Gresik 29 Maret 1996 tersebut juga banyak penggemar. Hingga kini, followernya di Instagram sudah mencapai 89.2K.
Gadis yang sebentar lagi menginjak  usia 23 tahun tersebut mengawali bisnisnya sejak tahun 2013 silam tepatnya saat masih menjadi mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB). Bermula dari berjualan online aksesoris jepit badai (jedai) yang sedang booming pada masanya, ia berhasil meraup pundi-pundi rupiah.
"Dari situ saya memutar otak bagaimana caranya berjualan aksesoris  dengan harga murah, kemudian memutuskan mengambil barang dari China dengan harga kisaran Rp 1.000 hingga Rp 2.000 dengan nilai jual Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu," ujar Sarah.
Saat kejayaan jedai berakhir, ia kembali mencoba peruntungannya dengan berjualan baju secara online. Diakuinya untuk berjualan via online tidak membutuhkan banyak modal. Sekaligus bisa disambi dengan aktivitas lainnya yakni modeling, pemotretan, hingga menjadi talent di salah satu stasiun televisi tanah air.
Banyaknya teman memengaruhi kesehariannya, terlebih dalam hal nongkrong dan makan di kafe maupun restoran. Sementara bagi anak kuliahan, terkadang mereka harus berhemat dengan uang yang bisa dikatakan pas-pasan. Dari kondisi itu, mulai terbesitlah pemikiran untuk menekan pengeluaran hariannya. Dan sebaliknya, meraup pemasukan dari pengeluaran harian mahasiswa lain.
"Tren anak kuliah saat itu identik dengan nongkrong, akhirnya aku mutar otak dan membuat list kira-kira kebutuhan apa saja yang dibutuhkan untuk membuka sebuah bisnis, akhirnya cafe pertama saya bernama Cotton Inc berdiri," jelasnya.
Ia melanjutkan, modal mendirikan Cotton Inc tersebut diperolehnya dari berjualan online. Dimana saat berjualan tersebut ia sempat nekat dengan mengambil barang hingga 5000 pieces. Di luar ekspektasi, ternyata peminatnya membeludak hingga berkali-kali repeat order.
Awal mendirikan kafe, ia kelola sendiri mulai dari masak, mengelola keuangan hingga belanja bahan baku sendiri. Rutinitas yang dilakoninya selama beberapa bulan tersebut nyaris mengurangi jatah tidurnya. Bahkan tak jarang ia baru sampai ke rumah jam 02.00 dini hari.
"Saya harus mengorbankan jam tidur, apalagi saat maba, jadwal bisa dikatakan sangat padat, pagi sampai siang kuliah dan sorenya berangkat ke kafe. Pulang jam 2 pagi dan jam 7 pagi ada kuliah saya harus berangkat lebih awal karena jarak rumah dengan kampus lumayan jauh. Jadi berangkat kuliah kadang nggak mandi," terangnya.

 Di awal merintis usaha, semua dijalani sendiri atau bisa dikatakan learning by doing. Tak jarang uang hasil berjualan kerap kali hilang saat ditinggal masak, pasalnya belum ada mesin untuk mencatat pengeluaran. Semua masih dicatat manual.
Selain menjual Gula Kapas di Cotton Inc, Sarah juga menjual es krim. Namun saat itu Sarah tidak memiliki freezer, hanya ada kulkas sehingga mau tidak mau ia harus mengemasnya ke dalam wadah lebih kecil agar muat di kulkas yang dimiliki.
Beruntungnya, semua usaha yang dilakoninya membuahkan hasil dengan omzet hari kedua cukup untuk membeli freezer. Begitupun seterusnya, setiap ada pendapatan masuk, Sarah gunakan untuk mengembangkan usaha.
"Pendapat berikutnya dibelikan neon box agar nama kafe terlihat. Di luar ekspektasi, Alhamdulillah di situ ramai banget sampai terkenal tidak hanya di Malang namun hingga luar kota , bahkan banyak diliput media," ulas anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Enam bulan berlalu, Sarah mulai mengerti pola berbisnis. Mencoba membangun manajemen yang lebih bagus dan mempelajari organisasi sebuah perusahaan untuk menghandle dan mengcover semuanya, mulai dari supervisor hingga manajer. Learning by doing itulah yang membuatnya beralih dari berdagang ke berbisnis.
Setelah sukses dengan Cotton Inc, Sarah kembali melebarkan sayapnya dalam menggeluti bisnis dengan membuka kafe kedua dengan nama Keylabs Cafe Malang. Jika kafe pertama unggul di makanan gula kapas, di bisnis keduanya lebih menonjolkan ice cream nitrogen.
"Kafe kedua ini customer kembali membeludak di luar ekspektasi. Akhirnya saya terus berekspansi hingga ke Bali. Di Malang sendiri kemudian membuka cabang berikutnya bernama Astep Bistro," bebernya.
Tak berhenti sampai di situ, Sarah lalu merambah join dengan Sate Taichan Goreng, membuka di dua lokasi yakni Malang dan Surabaya. Pengalaman yang mengajarkannya pola berbisnis tersebut hingga sukses dengan beberapa usaha tak lantas membuatnya puas. Ia kembali membuka bisnis kosmetik bernama Hair Repair By Sarah Keihl.
Gadis cantik yang baru saja lulus Januari 2018 lalu tersebut bahkan merambah bisnisnya ke Jakarta Selatan dengan nama Mie Bangcad. Sukses berbisnis yang ia jalani sejak 2013 silam membuahkan hasil yang tak tanggung-tanggung. Dari bisnis tersebut bahkan ia mampu membeli mobil, rumah hingga apartemen.
"Alhamdulillah sudah tidak merepotkan orang tua lagi, yang paling penting adalah doa orang tua, karena doa tersebut insya Allah akan melancarkan segala urusan kita," paparnya.
Menurutnya, dalam menjalani sesuatu memutuskan untuk mencapai apa yang diinginkan tentu akan ada yang dikorbankan. Seperti ia dulu merelakan jam tidur untuk meraih mimpi sebagai enterpreneur muda.
Kesuksesannya bahkan tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, keluarga atau orang terdekat namun juga menginspirasi banyak orang. Sarah Keihl sering diundang untuk mengisi acara di berbagai seminar. Memotivasi generasi muda dan mahasiswa untuk meraih mimpi dengan mengerjakan secara sungguh-sungguh, pasti akan ada hasilnya.
"Berdoa dan bersyukur namun jangan cepat puas, saya orang yang ambisius, untuk itu setiap pagi bangun tidur harus ada yang dikerjakan, jangan ada hari yang terbuang sia-sia," tutupnya. (lin/han)

Berita Lainnya :