Jagad Lintang Songo Manunggal


Kebahagiaan umat Islam Kota Malang membuncah saat perhelatan akbar Halal Bihalal Keluarga Besar NU dan Muhammadiyah digelar di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang. Silaturahmi massal yang melibatkan ribuan umat terjadi secara alamiah. Tegur sapa diselingi canda tawa antar sahabat lama mengalir sedemikian akrab tanpa adanya sekat kelembagaan. Energi positif persahabatan mengalir dari kedua belah telapak tangan yang saling bertemu dan menyatu dalam sebuah jabat tangan erat untuk saling memaafkan.
Polarisasi dua kekuatan utama Islam di Indonesia yang mempunyai akar kuat dan menyebar di seluruh wilayah tersebut luntur seketika saat ribuan massa kedua  kutub bertemu untuk saling memaafkan dan saling menjaga persahabatan antar umat di segenap ruang dan waktu.
NU yang diidentikkan dengan basis massa Islam tradisional berbaur dengan Muhammadiyah yang diidentikkan dengan basis massa Islam modernis. Sebuah persatuan massal akar rumput bukanlah sekedar pertemuan antar elite kedua organisasi kemasyarakatan saja. Namun betul-betul melibatkan dua basis kultural kedua organisasi keagamaan paling berpengaruh di Tanah Air tersebut.
Surya Bagaskara yang merupakan lambang Persyarikatan Muhammadiyah menyatu dengan Jagad Lintang Songo yang merupakan lambang dari Nahdlatul Ulama. Surya Bagaskara terinspirasi oleh pancaran sinar Sang Surya yang merupakan sumber energi kehidupan makhluk hidup. Matahari merupakan pusat inti dari tata surya, melambangkan sumber spiritual nilai-nilai Islam yang berintikan kepada dua kalimat syahadat. Surya Bagaskara merupakan metamorfosis dari Surya Majapahit yang merupakan lencana resmi dari Kerajaan Majapahit.
Jagad Lintang Songo adalah gabungan anasir alam yang diwakili oleh bumi dan bintang. Penanda dari misi besar NU yang membawa ajaran Islam Rahmatan lil Alamin, yaitu Islam sebagai rahmat bagi seru sekalian alam. Baik alam kamanungsan, alam makhluk hidup lainnya maupun alam semesta jagad raya seisinya.
Sembilan pancaran bintang mengingatkan kita kepada sembilan ajaran luhur Wali Songo, para penyebar ajaran Islam di Nusantara dengan petuah-petuah bijaknya untuk selalu nguri-uri khasanah tradisi asli. Sembilan bintang juga merupakan gambaran dari Kanjeng Nabi panutan, keempat sahabat utama dan empat mazhab yang berkembang. Tali jagad merupakan simbol hubungan transendental antara manusia dengan Sang Maha Pencipta.
Gelaran acara ini menyejukkan suasana kebatinan umat Islam yang selama ini diterpa berbagai macam isu negatif atas ketidak harmonisan antar kelompok dalam menyikapi beberapa peristiwa penting yang telah terjadi. Seperti perhelatan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, kebijakan Full Day School dan Perppu tentang Ormas yang akhir-akhir ini cukup menyita energi dan perhatian publik.
Ukhuwah Islamiyah dalam bingkai persatuan nasional telah ditunjukkan oleh warga Malang. Acara bertajuk Meneguhkan Ukhuwah dalam Bingkai NKRI demi Terwujudnya Islam Rahmatan lil Alamin tersebut patut digelindingkan ibarat gerakan bola salju yang semakin membesar demi terwujudnya cita-cita nasional dan kelancaran program pembangunan.

Berita Terkait

Berita Lainnya :