Membangkitkan Kembali Semangat Surau

SURAU merupakan tempat berkumpulnya anak laki-laki yang sudah akil baligh untuk tidur di malam hari dan menekuni bermacam ilmu dan keterampilan. Demikian gambaran A.A. Navis tentang surau dalam cerpen “Robohnya Surau Kami (1984)”. Fungsi surau tersebut tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi diperluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman. 
Buku yang ditulis Azyumardi Azra ini mengulas perkembangan surau sebagai lembaga adat keagamaan yang khas di Ranah Minangkabau. Seiring perkembangan zaman, orientasi surau selalu berubah-ubah. Bermula di masa Hindu-Budha sebagai tempat penyembahan nenek moyang dan dewa, kemudian saat Islam masuk bertransformasi menjadi lokus pendidikan Islam, dan juga sekaligus islamisasi sebagai implikasinya.
Pada abad ke-18, surau di Ranah Minangkabau mengalami masa puncaknya ketika menjadi lembaga yang berada di atas desa-desa. Namun memasuki abad ke-19 dan ke-20, dengan berbagai kondisi situasional masa itu, eksistensi surau mulai goyah dengan munculnya madrasah sebagai hasil modernisasi pendidikan. Bahkan, pasca kemerdekaan eksistensi surau di Minangkabau berangsur surut karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus tunduk pada aturan pemerintah.
 
Tampak jelas perubahan surau sangat dipengaruhi dinamika gerakan Islam, adat, dan pergeseran norma sosial, baik di tingkat lokal Minangkabau maupun lingkungan Indonesia dan dunia Islam. Bahkan sejak paruh pertama abad ke-17 hingga abad ke-18, surau mendapatkan momentumnya sebagai pusat tasawuf dan tarekat.
Memasuki abad ke-19, paham dan praksis keagamaan Wahabi dari Arabia—termasuk Makkah dan Madinah juga menyebar ke wilayah lain—termasuk Minangkabau. Perkembangan ini tentu menimbulkan dampak signifikan terhadap surau; gerakan pembaruan Islam memunculkan konflik yang mengancam eksistensi surau. 
Surau yang telah lama sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Islam di Minangkabau mulai tergeser oleh kehadiran madrasah, sebagai lembaga pendidikan Islam modern. Pelan tapi pasti, surau menempati babak marjinalisasi dibanding dengan madrasah dengan sistem modern. Kehadiran madrasah di tanah Minangkabau sebetulnya lebih merupakan reaksi atas ketidakpuasan atas sistem pendidikan yang menggunakan cara-cara tradisional. Namun demikian, madrasah adalah sebagai kelanjutan dari proses modernisasi surau.
Lantas, memudarnya pamor surau pada masa selanjutnya menciptakan romantisme sejarah. Kemerosotannya telah menimbulkan dampak negatif terhadap masa depan Islam dan adat ranah Minangkabau. Ada kerinduan terus-menerus sampai sekarang untuk membangkitkan kembali semangat surau sebagai lokus pendidikan Islam dan wadah yang merekatkan seluruh elemen dari yang tua, muda ,dan anak anak. 
Buku yang berawal dari tesis di Columbia University, New York, ini dimaksudkan memperkaya khazanah dan memperluas korpus pengetahuan sejarah sosial pendidikan Islam di Indonesia. Buku ini sekaligus membuktikan adanya dinamika gerakan Islam di Minangkabau.
Surau kini memang terlihat semakin terpinggirkan di tengah dinamika Islam dan juga perubahan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan keagamaan kontemporer. Tentu, upaya membangkitkan kembali semangat surau tidak cukup romantisme, juga tidak cukup dengan jargon “kembali ke surau”. Perlu usaha-usaha komprehensif dan konsisten dari berbagai lapisan dan kepemimpinan Minangkabau agar surau dapat kembali eksis dan kembali memainkan peran instrumental dalam penguatan keislaman dan keadatan Minangkabau.
Dalam konteks otonomi daerah, bagaimanapun, surau dipercaya masyarakat Minang dapat menumbuhkan spirit batang tarandam, yakni melahirkan ulama-ulama besar sebagaimana dihasilkan surau di masa silam. Sebagai lembaga pendidikan Islam di Minangkabau, surau tetap menjadi bagian integral dari collective memory orang-orang Minang secara keseluruhan.
Nah, melalui buku ini, Azyumardi Azra mengimpikan adanya usaha komprehensif dan konsisten dari seluruh lapisan masyarakat Minangkabau demi membangkitkan kembali wajah surau dengan wajah yang baru dan semangat yang baru. Jika ada kebersamaan dan kemauan serta kesungguhan anak nagari Minang di seluruh Sumatera Barat, tidak mustahil akan memulihkan surau dari kesan marjinalitas.
Di tengah kompleksitas masalah yang mendera surau, buku ini penting dibaca oleh kalangan pendidik, sejarawan, tokoh agama, dan masyarakat secara umum. Sebab di dalamnya terekam bagaimana wajah sistem pendidikan tradisional di Indonesia dalam menyongsong modernisasi dan masa-masa transisi.
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :