Spirit Milenial Pengubah Indonesia


Era digital semakin membentuk pusaran deras bagi generasi muda. Kita seakan dipaksa untuk selalu terpapar oleh sebuah keterbukaan. Di mana interaksi manusia 24 jam non-stop, nyaris tidak ada batas. Sehingga membuat kita seakan dikendalikan oleh arus teknologi.
Permasalahan-permasalahan pun kerap terjadi pada generasi milenial secara signifikan. Yaitu permasalahan yang timbul dalam diri, problematika sosial, bahkan permasalahan secara global. Mereka mengalami fase yang lebih panjang dalam menentukan identitas diri.
Dr. Muhammad Faisal, seorang peneliti muda dan pendiri Youth Laboratory Indonesia, mengajak kita untuk bisa lebih mengetahui dan memahami karakter generasi milenial di Indonesia. Sehingga kita mampu mempersiapkan diri menjadi generasi yang tepat. Mampu memberikan perubahan baik di Indonesia.
Generasi Phi di Indonesia memiliki corak identitas yang sangat unik. Saat ini begitu banyak keberagaman identitas kelompok pemuda di masing-masing daerah. Varian identitas itu semakin meluas dengan adanya komunitas berbasis hobi dan passion (47). Kesempurnaan identitas bagi Generasi Phi adalah mampu mencapai keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai konservatif.
Generasi Phi adalah generasi yang lebih banyak melakukan kurasi-kurasi. Informasi yang mudah diakses dan tiada batas membuat karakter dan identitasnya mirip seorang kurator. Ia mampu memilih dan memilah informasi yang akan dikemas menjadi sebuah kreativitas. Kecenderungan Generasi Phi berprofesi sebagai blog reviewer, vlogger, fashion blogger, dan music/games enthusiast yang banyak melakukan review.
Gen Phi juga bisa diposisikan sebagai outlier. Kelebihan dari Gen Phi yaitu memiliki kemampuan “out of the box” yang sangat tinggi. Mampu membuka ruang-ruang baru yang tak terpikirkan dengan cara berpikir yang lebih independen. Hal ini terjadi karena Gen Phi tumbuh besar dalam era revolusi media sosial.
Dampak aspirasi karier Generasi Phi, ia akan semakin bergerilya untuk bisa menggapai dream job, mengklaim ruang kreasi, juga kebebasannya. Namun, hal ini akan berdampak pada beberapa hal, misalnya kemungkinan turunnya minat anak muda pada pendidikan tinggi. Terutama pada bidang-bidang yang tidak lagi dianggap mewakili dunia anak muda atau passion anak muda (hal 127).
Generasi Phi dalam membekali diri untuk mencapai pekerjaan impian sudah semakin spesifik. Sehingga kebutuhan akan pendidikan tinggi yang bersifat umum mulai menurun, sudah bersifat lebih aplikatif. Bahkan, sekarang muncul aspirasi agar studi yang dijalani Generasi Phi lebih praktis dan tidak membosankan.
Apabila kita ingin memahami dinamika Generasi Phi, kita harus bisa memberikan jawaban akan pemahaman mengenai hal berimplikasi, misalnya pendidikan. Ini fenomena global. Prioritas dan pengetahuan para Milenial hingga Gen Z sudah bergeser. Pemuda lebih memandang diskusi harian dengan peer groups sebagai sebuah realitas utama, ketimbang pelajaran di ruang kelas (148).
Memahami Generasi Phi juga perlu memahami peristiwa sosial-politik-ekonomi yang terjadi di generasi tersebut. Generasi Phi memiliki kecenderungan tidak masuk ke dalam ranah politik atau struktur pemerintahan. Lebih memilih untuk melahirkan gerakan independen bernuansa berbeda. Karena persepsi tentang gerakan-gerakan dalam struktur formal sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik dari partai, pemodal,  atau para politikus.
Pada akhirnya, Generasi Phi bisa dikatakan sebagai Generasi Seniman yang mana ia cenderung menyendiri atau merasa teralienasi. Ia memiliki kepribadian yang kompleks serta sulit dipahami. Sangat besar kemungkinan, Generasi Phi bisa membawa Indononesia ke arah perubahan yang baik.
Buku ini bisa menjadi literatur dalam mewujudkan generasi milenial pengubah Indonesia. Karen terlahir dari wujud kegelisahan dan optimisme, sebagai modal untuk mendorong terwujudnya gerakan positif bagi Indonesia yang bermula dari generasi muda. Perlu kita ingat bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah karya dari generasi muda. (*)

Judul    : Generasi Phi
Penulis    : Dr. Muhammad Faisal
Penerbit    : Republika
Cetakan    : I, Desember 2017
Tebal    : xvi + 244 halaman
ISBN    : 978-602-082-289-1
Peresensi    : Tri Jazilatul Khasanah

Berita Terkait

Berita Lainnya :