Takdir Perempuan

Meskipun Raden Ajeng Kartini sudah memerjuangkan agar derajat kaum perempuan setara dengan lelaki. Sehingga mempunyai pekerjaan juga kesempatan yang sama, pendidikan serupa juga peluang kehidupan lebih baik. Masih banyak ditemui perempuan mengalami ketidak adilan juga dituntut sesuai kodratnya.
    Hal serupa nampaknya coba diangkat oleh W. Sanavero dalam kumpulan cerpen terbarunya “Perempuan yang memesan takdir”. Sama seperti kebanyakan penulis perempuan lain yang hampir selalu membawa perjuangan kaumnya dalam setiap tulisannya. Penulis menggambarkan berbagai masalah juga isu tentang perempuan yang memang cukup lekat di masyarakat.
    Cerpen “Bunga Aster” mengisahkan tentang aku seorang perempuan yang ingin keperawanannya kembali juga menjadi seorang ibu. Dalam cerpen tersebut aku, Daisy yang berarti bunga aster bercerita bila semua perempuan di desanya adalah janda dan para lelakinya suka mengawini mereka ketimbang gadis yang kehilangan keperawannya sebelum menikah.

Tetanggaku, semua janda. Bahkan sepertinya, perempuan satu desa ini janda. Aku? Biar aku katakan, aku Daisy. Perempuan desa yang harum kelaminnya seperti bunga aster, dan aku tidak janda. Sayangnya, pemuda desa ini, tepatnya pemuda petani di desa ini, lebih memilih janda. Mereka lebih rela untuk menghabiskan ladang-ladangnya untuk tanaman bunga janda setiap harinya. Mereka lebih memilih mengawini janda-janda ketimbang perempuan yang hilang keperawanan sebelum menikah.(hal. 14)
Di cerpen lain hal serupa yang menyangkut Takdir Perempuan dibahas, cerpen berjudul “Kopi Perempuan”. Tokoh aku sedang menikmati kopi di sebuah kedai di jalan Ijen, ia bertemu seorang perempuan mahasiswi sastra jawa yang sedang menunggu pesanan kopi. Perempuan itu menghisap rokok dan menawarkannya pada tokoh aku. Tokoh aku pun penasaran mengapa ia merokok.
“Baiklah, sekarang mengapa kamu memiliki kotak rokok ini? Ah, maksudku mengapa kau merokok? Perempuan kebanyakan sangat menjaga nilai,” tanyak tanpa basa-basi. Semenjak beberapa situasi yang lalu sempat membuatku sedikit gila, aku lupa bahwa perempuan berhati lembut. Aku bahkan lupa, sejauh ini aku bahkan tidak melihatnya. Bahkan mereka lebih keras dari otak dangkal seorang laki-laki.
“Maksud kamu, aku perempuan bebas nilai?”(Hal.56)

Tidak hanya soal perempuan, penulis juga menyisipkan unsur lain seperti budaya, sosial juga ketuhanan dalam 16 cerpennya. Cerpen berjudul “Runduk” mengangkat tentang perempuan yang merasa aneh juga asing ketika perempuan lain memerlakukannya baik juga menghormatinya, meski sesama perempuan. Tokoh aku dalam cerita tersebut adalah seorang keturunan darah biru yang harus kembali ke rumahnya, setelah berada di dunia luar dengan segala gemerlap. Ia kembali menjalani takdir sebagai seorang perempuan bangsawan dan meninggalkan atribut yang ia terima dari pergaulannya di luar.
Dua abdhi dalem berjalan dengan lututnya, lalu menyisir rambutku dengan minyak kemiri. Seorang lagi mengaduk teh bunga kenanga. Aku menarik napas panjang, aku tidak tahu luka macam apa yang terbentuk dalam hatiku. Rasanya sesak saja. Mereka berdua seorang perempuan, sama sepertiku. Tapi aku tidak pernah menyisir rambut seseorang dengan minyak kemiri, terlebih mengadukkan teh dari berbagai macam bunga-bunga. (Hal. 79)
Ada beberapa takdir yang memang tidak bisa diubah, namun takdir yang melekat dalam diri perempuan seakan menghambat dirinya. Dalam kumpulan cerpen ini W Sanavero mencoba menceritakan hal itu, meneriakkan suara-suara perempuan yang memiliki atau menanggung beban serupa. Bahasa yang digunakan ringan dengan pilihan diksi puitis manis. Dan, pada akhirnya manusia, khususnya kaum perempuan kalau diijinkan, apa ingin memesan sebuah takdir?


Judul : Perempuan yang Memesan Takdir
Penulis : W Sanavero
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : Pertama, Februari 2018  
Tebal : vi + 102 halaman
Isbn : 978-602-1318-65-2

Peresensi Mufa Rizal
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Berita Terkait

Berita Lainnya :