Terobosan Pariwisata Memperbesar Devisa

Judul    : Sejarah Pariwisata
Penulis    : Bungaran A.S., Flores T., Rosramadhana N.
Penerbit    : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan    : I, 2017
Tebal    : x + 258 halaman
ISBN    : 978-602-433-437-6
Peresensi    : Teguh Wibowo, anggota FLP Surabaya


Indonesia dan beberapa negara lain, saat ini menempatkan pariwisata sebagai aspek penting dan terpadu dari strategi pengembangan negara. Banyak negara maju menginformasikan bahwa sektor pariwisata memberi keuntungan terhadap negara bersangkutan. Keuntungan itu diperoleh dari pendapatan nilai tukar mata uang asing, pendapatan pemerintah, stimulasi pengembangan regional, dan peluang tenaga kerja.

Dalam sejarah pembangunan di banyak negara, sektor pariwisata terbukti berperan penting meningkatkan devisa dan kesejahteraan.

Organisasi internasional seperti PBB, Bank Dunia, dan World Tourism Organization (WTO), mengakui bahwa pariwisata merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Potensi pariwisata Indonesia sangat besar dan beragam. Setiap pulau atau daerah adalah destinasi wisata.
Strategi pembangunan pariwisata menangani masalah-masalah yang muncul saat ini dan juga berkonsentrasi ke masa depan. Negara berkembang seperti Indonesia merancang kebijakan pariwisata. Memanfaatkan sumber daya yang dapat digunakan seefisien mungkin dan memberi kontribusi ekonomi terhadap negara. “Sistem pariwisata akan terpenuhi dengan memperhatikan faktor demand (pasar), transport, supply (produk), dan marketing (pemasaran)” (hal 10).
Jika ingin memperoleh kunjungan wisatawan yang lebih banyak, produk yang dijual harus mempunyai nilai tambah dan ciri khas yang membedakan dengan daerah lain. Selama ini Pulau Lombok dikenal memiliki pantai indah. Rancangan ke depan, Lombok juga perlu memasarkan cerita rakyat, misalnya cerita Putri Nyale, Perang Tobat, Ayam Kaliwang, Gerabah, tenunan khas daerah dan lainnya (hal 87).
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam, tetapi masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pemasaran pariwisata yang baik dapat mendorong peningkatan lapangan kerja yang memadai, karena di dalamnya terdapat kegiatan ekonomi produktif, mulai dari kerajinan, kesenian, makanan, transportasi, trevel, herbal, dan sebagainya. Oleh karena itu, penataan dan pemeliharaan objek-objek wisata perlu ditingkatkan segi kualitas dan kuantitasnya.
Pariwisata sebaiknya tidak hanya mengandalkan apa yang tersedia di alam. Namun, sebaiknya juga menyediakan fasilitas kegiatan sebagai penunjang dan pelengkap kegiatan pariwisata itu. Terutama ketersediaan sarana dan prasarana umum seperti jalan raya, jembatan, listrik, telekomunikasi, transportasi, dan air bersih. Hal ini dapat  memberi kepuasan kepada wisatawan.
Kepercayaan dunia internasional terhadap pariwisata Indonesia sempat menurun saat ada tragedi, seperti bom Bali 2002 dan 2005, serta bom Jakarta 2009 di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Pada tahun 2009, Kementerian Pariwisata Indonesia melanjutkan “Tahun Kunjungan Indonesia” sebagai upaya meningkatkan jumlah wisatawan asing. Hasilnya, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditas minyak bumi, gas bumi, dan minyak kelapa sawit. Data tahun 2010, jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia sebesar tujuh juta lebih atau tumbuh sebesar 10,74 persen dibandingkan tahun sebelumya (hal 78-79).
Berdasarkan data dari BPS, sebelas provinsi yang paling sering dikunjungi oleh para turis adalah Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatra Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Banten, dan Sumatra Barat. Pada tahun 2011, pemerintah Indonesia menetapkan “Wonderfull Indonesia” sebagai manajemen merk (brand) baru pariwisata. Kepariwisataan memiliki potensi meningkatkan solidaritas dan kualitas hubungan antarmanusia dan antarbangsa.
Buku ini dimaksudkan untuk menambah literatur kepariwisataan. Diperkaya dengan temuan-temuan dan pengamatan penulis. Kajian yang lebih rinci mengenalkan potensi pariwisata klasik dan modern di Indonesia. Secara khusus menyajikan kreativitas pengembangan jenis dan destinasi pariwisata baru di Sumatra Utara. Uniknya, bagaimana temuan “Pariwisata Kemiskinan” di Sumatra Utara dijadikan sebagai objek pariwisata. (*)

Berita Terkait

Berita Lainnya :