Wanita Poliandris

Satu istri, dua istri. Sebuah hal yang telah biasa di masyarakat. Seorang lelaki diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri, asalkan dapat berlaku adil. Bagaimana dengan wanita? Apakah boleh memiliki lebih dari satu suami? Lantas bagaimana jika ada wanita yang menikahi lima orang lelaki sekaligus? Drupadi. Sebuah novel karangan Seno Gumira Ajidarma yang mengangkat sebuah cerita perwayangan mahabarata, yakni Pandawa lima.Mengambil tokoh utama seorang Drupadi gadis yang diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah. Kecantikan Drupadi sungguh luar biasa hingga menjadi buah tutur dari mulut ke mulut. Seno, dalam karyanya kali ini menampilkan harga diri seorang wanita yang dipertaruhkan. Melalui karyanya ini Seno seakan ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa seorang wanita juga pantas untuk membela hak asasinya dari tekanan kekuasaan. Kisah ini berawal dari sebuah sayembara pencarian jodoh untuk Drupadi. Raja muda dan ksatria dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong untuk mengikuti sayembara. Drupadi pun gelisah, “Lelaki manakah yang akan menamatkan keperawananku?”(Drupadi,2017:4).

Para peserta sayembara pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk memenangkan Drupadi. Ketika sayembara sedang berlangsung tiba-tiba sebuah panah melesat dan tepat mengenai sasaran. Seluruh masyarakat yang berada di area sayembara pun ternganga tatkala melihat dihadapan mereka adalah seorang Arjuna yang sedang menyamar, dan memenangkan sayembara.Pada kala itu, masyarakat beranggapan bahwa Pandawa telah mati. Meskipun telah memenangkan sayembara, ternyata Drupadi bukan hanya milik Arjuna seorang. Drupadi milik Pandawa. Arjuna memenangkan sayembara untuk Pandawa. Mau tak mau Drupadi pun harus menikahi kelima lelaki ksatria itu. Kehidupan Drupadi menjadi istri dari lima laki-laki tidak berjalan secara mulus. Bahkan sebaliknya, Drupadi harus menanggung kesengsaraan yang tiada hentinya. Drupadi yang sangat cantik menjadi sangat sengsara dan tidak berdaya atas hidupnya.Pelecehan, penghinaan, dan terusir harus dialami Drupadi dalam pengasingan bersama kelima suaminya. Namun Drupadi tak tinggal diam, ia pun memainkan perannya sebagai seorang wanita tanguh. Drupadi harus memiliki kembali hak-hak yang seharusnya menjadi miliknya dan kelima suaminya. “Apalah artinya Pandawa tanpa Drupadi.” Novel karya Seno Gumira Ajidarma ini tidak memiliki perbedaan banyak dengan cerita perwayangan Mahabarata. Namun, hal yang membuat berbeda dari karya sebelumnya adalah car penceritaan penulis dan cara pandang penulis terhadap tokoh utamanya. Novel Drupadi ini merupakan sebuah bacaan berat. Dengan diawali dan disisipi sajak yang berat, nama tokoh yang begitu banyak dan alur cerita yang begitu berat, membuat pemabaca yang tidak begitu menyukai kisah pewayangan akan berpikir keras. Terlepas dari itu semua, novel ini sangat bagus untuk dibaca, karena nilai-nilai kehidupan akan banyak ditemukan pada novel ini. “... pengabdian yang sempurna adalah setia kepada peranan hidup kita, apapun peran yang kita mainkan.” (Drupadi, 2017: 77-78)

Berita Terkait

Berita Lainnya :