Ekspedisi ASEAN di Enam Negara

 
Pada 25 Januari hingga 5 Februari 2016, Malang Post mengirim empat jurnalis ke enam negara. Kegiatan demi menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini dinamai Ekspedisi ASEAN. Negara tujuannya, Singapura, Malaysia di George Town Pulau Penang dan Kualalumpur, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam.
Pesertanya, Bagus Ary Wicaksono, Vandri van Battu, Lailatul Rosida dan Binar Gumilang. Ini adalah ekspedisi kali pertama yang dilakukan oleh media cetak, dalam rangka menyambut potensi MEA.
 
Dari Singapura ke Kota Warisan Dunia
Senin, 25 Januari 2016, jajaran komisaris dan direksi Malang Post memberangkatkan tim ini menuju Juanda, untuk kemudian terbang ke Singapura. Hanya sehari semalam berada di Singapura, tim kemudian terbang dari Changi menuju ke Pulau Penang Malaysia. Tujuannya adalah George Town, kota yang dinyatakan sebagai World Heritage City atau Kota Warisan Dunia di bawah pengawasan UNESCO.
Kunjungan ke George Town ini penting, mengingat secara kultural Kota Malang memiliki potensi yang sama. Kota Malang bisa menjadi kota warisan dunia, dengan segala pernak-pernik arsitekturalnya. Selama di George Town, tim ekspedisi berdikusi dengan para peneliti dari Penang Institute, atas prakarsa peneliti dari Malaysia Mohd. Izzuddin Ramli.
Inggris membangun kota ini pada 1786, kini usianya 231 tahun. Selisih 128 tahun dengan Kota Malang yang dibangun Belanda pada tahun 1914, kini berusia 103. Namun, hingga kini warisan budaya multikultural di George Town sangat terjaga. Beragam agama hidup berdampingan. Kuil, klenteng, candi, masjid dan gereja utuh terawat. Cluster-cluster arsitektural era Inggris juga dijaga dengan sangat disiplin. Ada kampung backpacker untuk wisatawan asing, dengan bangunan masih mempertahankan era Inggris ratusan tahun silam. 
Dengan menjual George Town sebagai kota warisan dunia, sektor ekonomi di tempat itu hidup. Ditunjang pula dengan angkutan masal yang apik. Tak hanya George Town, Pulau Penang secara utuh memang memiliki pesona tersendiri. Kulinernya lezat-lezat, Penang adalah surga kuliner. New Lane Mcalister Road disulap menjadi kawasan street food. Masakan Chinese ada, juga masakan halal lain bernama Nasi Kandar.
Yang tak kalah menakjubkan adalah menaiki kereta khusus ke Bukit Bendera atau Penang Hill dengan ketinggian 823 meter. Di puncaknya, tampak pemandangan seluruh Pulau Penang, serta selat antara Penang dan mainland of Malaysia. Di tengah selat terdapat dua jembatan, yaituembatan Penang sepanjang 13,5 km dan Jembatan Kedua Penang memiliki panjang 23,5 Km!
 
Bertemu Duta Besar RI untuk Thailand
Dari Penang, tim kemudian terbang ke Thailand. Berkesempatan berbincang dengan Duta Besar Indonesia untuk Thailand Lutfi Rauf kini menjadi Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polhukam. Kebetulan, saat itu Lutfi juga menggelar pesta perpisahan karena masa jabatannya habis. Tak hanya mengunjungi berbagai pusat kebudayaan di Bangkok, tim juga mengikuti pameran teknologi pertanian terbesar ASEAN. Dari sini tim berpisah, Lailatul Rosida dan Binar Gumilang fokus di Bangkok. Sedangkan Bagus Ary Wicaksono dan Vandri Battu bergerak ke Vientiane Laos. Jalur yang dipakai adalah jalur darat menggunakan kereta api Sleeper Train, yang dilengkapi tempat tidur. Di Vientiane, tentu pusat peribadahan umat Buddha yang dikunjungi tim ini. Selain bercengkrama dengan penduduk lokal. Cukup mengejutkan, sebab mereka sudah tahu konsekuensi dari MEA. Beberapa pemuda bahkan berencana ke Jakarta untuk melamar pekerjaan selepas lulus kuliah. 
 
Dari Angkor Wat Menuju Kota Pol Pot 
Puas menggali potensi wisata di Laos, Vandri dan Bagus bergerak kembali ke Bangkok. Kemudian berpindah naik bus menuju Siem Reap Kamboja. Tujuannnya adalah Angkor Wat yang dibangun Raja Suryawarman II pada abad ke 12. Pembangunannya makan waktu 30 tahun. Dulunya merupakan Candi Hindu, namun kini menjadi candi milik Umat Buddha. Hanya memiliki Angkor Wat, kota Siem Reap menjadi destinasi utama warga dunia di Kamboja. Kota itu dipenuhi turis dari berbagai belahan dunia. Tiket masuk Angkor Wat memakai sistem seperti pembuatan SIM, foto turis ada di tiket itu. Karena harga tiket memiliki paket tertentu, satu hari, tiga hari hingga seminggu.
Dari Angkor Wat, tim bergerak ke kota yang dikuasai diktator komunis Pol Pot. Ya Phnom Penh memang tak lepas dari kekejaman Pol Pot. Ketika ia menguasai Kamboja, sedikitnya 3 juta orang tewas karena kebijakannya. Di kota ini, sisa kekejaman Pol Pot juga menjadi museum. Tentu tak hanya melihat sisa kekejaman Pol Pot, Phnom Penh sungguh menarik. Utamanya berwisata kuliner di pinggir sungai Mekong. Sungai Mekong ini dilewati tim ketika berada di Laos, dan kembali bisa dijumpai saat berada di Kamboja.
Perhentian selanjutnya dari Phnom Penh ini adalah Ho Chi Minh City Vietnam. Masih naik jalur darat dengan menggunakan moda transportasi bus. Di titik tertentu, bus ini berhenti untuk makan. Selebihnya melewati perkampung Khmer yang identik dengan rumah panggung dari kayu. Jika anda berkunjung di Kamboja kemudian berpindah ke Vietnam, akan terasa sekali perbedaannya. Kamboja secara ekonomi belum terjamin, terlihat dari hunian warga dan infrastruktur. Sedangkan berada di Ho Chi Minh, tentu menakjubkan. Ini kota kuno yang diubah menjadi kota modern. Ho Chi Minh nama lamanya adalah Saigon.
Kota ini terletak di delta Sungai Mekong. Begitu masuk kota, pinggiran Sungai Mekong telah disulap menjadi tempat aktivitas warga yang sangat bagus. Di pinggir sungai disediakan kursi taman dan sarana olahraga. Pedestriannya sungguh nyaman. Hanya di Ho Chi Minh, kita bisa melihat pedestrian yang lebarnya nyaris menyamai jalan raya. Tujuan utama di sini sebenarnya adalah ke The War Remnants Museum, museum sisa perang melawan Amerika yang berada di 28 Vo Van Tan, District 3, Ho Chi Minh City. Museum ini sebenarnya ala museum Brawijaya Malang, namun dikemas lebih heboh, dengan tank raksasa dan pesawat yang berjajar di halamannya. Manajemennya sangat apik, sehingga pengunjung nyaman berada di areal museum. Wisata lain yang tak kalah seru adalah ke Cu Chi Tunnel, ini yang digunakan gerilyawan Kamboja ketika melawan Amerika.(ary)

Berita Lainnya :