Jadi Pemenang dalam Era Disrupsi

 
MALANG - Para leader dan calon leader Korane Arek Malang, digembleng dalam kuliah manajemen, Rabu (14/2) kemarin. Bertempat di Graha Malang Post Jalan Raya Sawojajar 1- 7, dengan pemateri Dr. Ihyaul Ulum SE. M.Si Ak. CA. Doktor dari Universitas Muhammadiyah Malang ini membagikan ilmu cara jadi pemenang di era disrupsi. 
Ya, tema yang diangkat akademisi kelahiran Paciran Lamongan ini sangat penting. Yakni memenangkan persaingan di era disrupsi. Fenomena disrupsi adalah ketika dunia industri dan persaingan sektor usaha tidak lagi linear. Tema ini sangat cocok dengan industri media cetak, yang selalu bersentuhan dengan perubahan. 
“Perubahan di dunia industri saat ini, sudah jauh melampaui dari apa yang kita pikirkan. Bahkan yang ada saat ini, tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” ujar dosen tetap Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Pola saat ini mengacak-acak tatanan lama. Bertumbuh menjadi tatanan baru yang sama semakin di luar perkiraan. Untuk bisa memenangkan persaingan di era disrupsi ini, maka harus memahami pola baru itu. Kemudian terus menerus mengimprove strategi bisnis. Pria yang mengambil gelar doktor di Universitas Diponegoro ini, mengajak para peserta memahami arti disrupsi.
“Disrupsi ini sesuai KBBI, artinya tercabut dari akarnya. Banyak yang menganggap disrupsi ini negatif, tapi kita melihatnya sebagai hal positif,” ungkap penulis buku Intellectual Capital; Konsep dan Kajian Empiris ini.
Disrupsi dengan inovasi, bagaikan satu bagian anak panah. Bagian depan disebut mata panah, bagian tengah adalah shaft (batang panah, Red). Serta bagian belakang adalah nock dan vane (bulu, Red). Maka inovasi berada di nock dan vane dan disrupsi di bagian mata panah. Inovasi artinya doing the same things a bit better. Sedangkan shaftnya adalah doing new thing.
“Disruption mean, makin thing that make the old things absolete,” tegasnya.
Dia lantas memberikan contoh disrupsi di sektor transportasi. Munculnya grab dan juga go pay di sektor fintech alias financial technologi. Dicontohkan pula, disrupsi pada pola pembayaran di tol. Muncul e-toll dengan tujuan awal untuk memperpendek antrean. Namun, konsep ini pada pelaksanaannya, juga tak sempurna. 
“Kenyataannya,masih tetap ada antrean, karena alat gesek di tol terlalu tinggi, ada yang terlalu jauh. Sampai-sampai kemudian ada yang memproduksi tongkat untuk kartu e-toll,” jelasnya.
Contoh lain yang sudah terjadi adalah digital disruption. Di antaranya, muncul perusahaan taxi terbesar yang tidak memiliki kendaraan, Uber. Provider akomodasi yang tidak memiliki aset, AirBnB, Perusahaan telekomunikasi terbesar yang tidak memiliki perangkat, skype. 
Menurut dia, ciri-ciri disruptive innovation antara lain, problem not well understood, new market. Innovation is dramatic and game changing, customer doesnt know, market is unpredictable dan traditional business methods fail.
Dijelaskan, dalam disrupsi, ada tiga dimensi yang perlu diperhatikan. Pertama emerging technology atau teknologi baru. Innovative new business models. Serta kurva deret ukurnya yang tidak linier lagi, skalanya membesar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ia kemudian memberikan solusi dalam menghadapi persaingan dari sudut pandang Intellectual Capital.
“Maka yang berhasil dalam menghadapi persaingan di era disrupsi ini. Pertama struktur organisasi perusahaan harus luwes, semua SDM bisa mengerjakan berbagai hal, minim spesialisasi,” terangnya.
Lantas, harus menerapkan knowledge management. Di dalamnya ada faktor leadership, mentoring SDM, yang nanti bermuara pada customer relationship. Ketiga memperhatikan intelectual capital dan intangable capital.(ary) 

Berita Lainnya :