Karena Artikel Ani Digeruduk Pendemo, Djajusman Hadi Diundang ke Istana Presiden RI


Ani Sri Rahayu merupakan salah seorang penulis aktif yang telah menghasilkan ratusan karya tulis ilmiah maupun populer. Rupanya, kiprahnya bermula dari dorongan Prof. Mas'ud Said selaku dosennya, ketika menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang.
"Ketika kuliah semester tiga, kali pertama saya menulis tentang Parpol, ternyata berhasil terbit. Sejak saat itu Prof Mas'ud pesan ke saya harus terus konsisten," urai perempuan yang menyelesaikan Program Studi Administrasi Negara di Universitas Brawijaya (UB) melalui beasiswa Program Pascasarjana (BPPS) tahun 2006 ini.
Perempuan kelahiran Bojonegoro ini dikenal sebagai kolumnis opini yang menulis beragam tema khususnya terkait dengan berbagai isu yang sedang populer di kawasan Malang Raya. Ani yang saat ini merupakan dosen Civic Hukum UMM ini juga telah mnghasilkan sejumlah buku, salah satunya berjudul Pengantar Pemerintahan Daerah.
Ani sempat menyayangkan terkait dengan adanya media yang menghapus rubrik opini, maupun rubrik-rubrik yang menyediakan ruang bagi penulis non jurnalis seperti dirinya. Menurut dia, hingga kini masih terdapat masyarakat yang membaca atau mengkonsumsi tulisan-tulisan dari karya para kolumnis.
"Percaya atau tidak, rubrik ini masih memberikan dampak terhadap masyarakat. Seperti pak Sugeng yang punya pengalaman didatangi orang tak dikenal karena tulisannya. Saya juga punya pengalaman serupa," urai Ani pada sesi diskusi literasi media di Graha Malang Post, Jumat (2/8).
Pada kesempatan tersebut, Ani mengisahkan bahwa ia pernah menulis opininya terkait dengan pemekaran Kota Batu yang terbit di Malang Post pada tahun 2002. Ternyata tulisannya dibaca oleh pihak yang kontra dengan karya tulisannya, dan menggeruduk tempatnya bekerja ketika itu di Universitas Tribhuwana Tunggadewi.
"Saya sampai ngumpet ketika itu. Jadi pengalaman menegangkan dari menulis. Tapi ini artinya rubrik itu ada pembacanya," pungkasnya.
Menurutnya, meskipun hal tersebut jadi salah satu pengalaman paling menegangkan dalam hidupnya, Ani kemudian menyadari bahwa tulisannya ternyata dibaca oleh masyarakat dan mampu memberikana dampak sedemikian rupa.
"Rubrik ini ternyata memberikan dampak, jadi harapan saya media harus terus mempertahankan wadah bagi kolumnis ini," imbuhnya.
Karyanya Jadi Inspirasi Pembangunan Kota
Selain Ani, ada pula cleaning service yang bisa masuk Istana Presiden Republik Indonesia dan diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Adalah Djajusman Hadi, seorang penulis yang pada 2002 silam pernah mendapatkan hak paten terkait karya riset inovasi yang dituangkan dalam sebuah buku bertajuk Kincir Air Kaki Angsa ini.
"Awal saya menulis itu tahun 1991, buah karya saya tersebut membuat saya sampai sejauh ini," ungkapnya pria yang kini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Registrasi dan Statistik Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Djajusman menceritakan bagaimana kiprahnya dalam menulis yang diawali dengan modal nekad. Bagaimana tidak, hanya dengan gaji Rp 55 ribu per bulan, Djajusman nekad daftar kuliah dengan SPP Rp. 50 ribu di prodi Sastra Indonesia UMM.
"Pokoknya saya nekad saja waktu itu. Sejak saat itu saya mulai beranikan menulis dengan mesin ketik, saya kirim ke media beberapa kali ternyata tidak dimuat," imbuhnya.
Meskipun begitu, Djajusman tak lantas menyerah. Ia justru makin semangat untuk menemukan cara bagaimana menulis yang benar dan bisa memberikan kontribusi terhadap orang lain. Hingga ia juga mencoba mengirim tulisan pada perlombaan yang diselenggarakan oleh IJMI Jatim, namun ternyata masih belum berhasil menang.
"Saya optimis ikut itu, dan hasilnya kalah. Tapi saya tetap tidak menyerah. Saya terus menulis melalui riset kecil-kecilan di dekat rumah," tandasnya.
Pria kelahiran 1967 ini juga mengatakan bahwa ia termasuk tipikal penulis yang sulit menulis puisi atau cerpen. Djajusman identik dengan karya-karya riset namun dengan gaya populer. Keahliannya adalah mampu mencetuskan ide-ide strategis dengan menggunakan bahasa-bahasa populer dan mudah dipahami pembaca.
"Yang penting punya ide, saya konsisten tetap menulis. Bahkan kalau sampai sebulan tidak menulis itu saya kangen," katanya.
Sejak awal tahun 2000 an, tulisan Dajusman sudah banyak terbit di media massa. Salah satu tulisannya yang sempat populer adalah opini bertajuk Malang Ijo Royo-Royo yang berisi ide gagasan terkait dengan mitos problema perkotaan.
"Hingga saat ini saya meyakini, apa pun itu jika dimulai dengan menulis pasti akan memperkaya pengetahuan kita," tandasnya.(mg3/ary)

Berita Terkait