Mengawal Perjuangan Arema di Level Asia

 
Sukses Arema sebagai juara Liga Indonesia edisi 2019/2010, kala itu dilatih Robert Rene Alberts, memberikan ‘hadiah’ tim Singo Edan berlaga di Liga Champions Asia (LCA) 2011. Arema  sudah tidak lagi dibesut Robert saat melakoni LCA. Tim kebanggaan Aremania ini ditangani Miroslav Janu. 
Meski berganti pelatih, tidak banyak pergantian pemain di tim yang lahir 11 Agustus 1987 ini. Termasuk media yang mengawal perjuangan Arema di level Asia, tetap Malang Post. Korane Arek Malang ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tim Arema. 
Adalah Buari, wartawan olahraga Malang Post ini yang meliput Arema, sejak raih gelar Juara Liga Indonesia, hingga tampil di LCA. Sebuah kebanggaan tersendiri, lantaran tidak banyak kesempatan dimiliki oleh tim-tim di Indonesia tampil di level Asia. 
Bahkan kesempatan Arema berlaga di LCA, sepertinya adalah yang pertama sekaligus yang terakhir untuk tim asal Indonesia. Sebelumnya, kompetisi bertitel Piala Champions Asia. Kramayudha Tiga Berlian (KTB), Pelita Jaya Jakarta (PJJ), Arseto Solo (AS) dan Persib Bandung (Persib) adalah tim-tim yang berlaga Piala Champions Asia, mulai 1985 hingga 2001.
Berikutnya, Arema Indonesia yang berlaga di LCA 2011. Setelah ini, tim asal Indonesia hanya bisa berlaga di AFC Cup yang levelnya dibawah LCA. Selain Arema, ada PSM Makassar (PSM), Semen Padang (SP) dan Persipura Jayapura, tim yang merasakan kompetisi AFC Cup.
Jadi, perjuangan Arema di ajang LCA adalah sejarah yang luar biasa. Sekalipun hasilnya, jauh dari yang diharapkan. Bahkan bisa dikatakan Arema babak belur, dan gagal di babak penyisihan grup G. Sebagai tim terbaik di Indonesia, Arema harus bersaing dengan tim juara tim asal Jepang (Cerezo Osaka), tim juara China (Shangdong Luneng) dan tim juara Korea Selatan (Jeonbuk Hyundai Motors).
Secara keseluruhan, kegagalan Arema rasanya tidak hanya uruan teknis. Secara non teknis, Arema saat itu juga tidak siap 100 persen di LCA. Khususnya menyangkut finansial, tim asuhan Janu itu mengalami krisis keuangan. Untuk berangkat ke luar negeri pun, Arema harus berhitung.
Bahkan pada laga terakhir babak penyisihan grup lawan Jeonbuk Hyundai Motors di Korea Selatan, Noh Alamsyah dkk nyaris batal berangkat karena tak ada anggaran. Untuk itu, Arema berharap segera ada pencairan uang subsidi dari Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) sebagai penyelenggara LCA. 
"Kita sangat berharap AFC bisa mencairkan bantuan US$ 30 ribu atas keikutsertaan Arema di ajang Liga Champions Asia 2011, dan PT Liga Indonesia diharapkan membantu melobi AFC, agar Arema bisa berangkat ke Korea Selatan," ungkap Presiden Klub Arema, Rendra Kresna kala itu. 
Sementara Arema saat itu juga masih kekurangan untuk membayar gaji pemain selama 1,5 bulan.
Akhirnya, lewat perjuangan keras, tim Arema berangkat ke Korea Selatan untuk melakoni laga terakhir. Arema mengusung 18 pemain, termasuk menyelipkan satu-satunya wartawan asal Malang yang berangkat ke Korea Selatan, yaitu Buari.
Pemain yang berangkat yaitu Ahmad Kurniawan (gk), Aji Saka (gk), Benny Wahyudi, Purwaka Yudi, Zulkifli Syukur, Waluyo, Johan Ahmad Farizi, Leonard Tumpamahu, Chmelo Roman, Ahmad Bustomi, Juan Revi, M. Ridhuan, Fakhrudin, Hendra Ridwan, Noh Alamshah, Talaohu Abdul Musafri, Yongki Ariwibowo serta Ahmad Amirudin.
Sebelum berangkat ke kandang Jeonbuk Hyundai Motors, posisi tim Arema Indonesia sebenarnya sudah gagal atau tidak lolos. Tim Arema sudah tamat perjalanannya di babak penyisihan grup G  di LCA, saat masih menyisahan dua pertandingan lagi. Peluang Arema ke babak 16 besar sudah tertutup usai diibantai tuan rumah Shandong Luneng 5-0 (2-0) di Shandong Luneng Stadium, Jinan, 20 April 2011.
Tim Asuhan Miroslav Janu ini semakin terbenam di posisi juru kunci klasemen sementara grup G. Arema hanya mengemas satu poin dari hasil imbang 1-1 lawan Shandong Luneng di stadion Kanjuruhan, 5 April 2011. Terlepas itu, pada 7 Mei 2011, tim Arema tetap berangkat ke Korea Selatan untuk menuntaskan perjuangan di LCA.
Hasilnya. Tim Arema dihancurkan tuan rumah Jeonbuk Hyundai Motors di Jeonju World Cup Stadium, Selasa 10 Mei 2011. Tidak tanggung-tanggung, Arema dihajar enam gol tanpa balas. Atas hasil ini, Jeonbuk mengoleksi 15 poin dan keluar sebagai juara grup G, sedangkan Arema bertahan di posisi juru kunci dengan hanya mengoleksi satu poin.
Singo Edan harus kebobolan empat gol di babak pertama dan dua gol lagi diciptakan di babak kedua. Tiga gol tuan rumah Jeonbuk dicetak Kruno Lovrek sebelum menit pertama atau detik ke 31 kemudian menit ke 45 dan 60. Gol lainnya dicetak Kim Dong-Chan pada menit sembilan, Jeong Seong-hoon menit 27 dan Kang Seung Jo pada menit 77.
Susunan pemain Arema yang diturunkan 2x45 saat itu adalah Ahmad Kurniawan (kiper), Zulkifli Syukur/Johan Farizi, M Ridhuan/Musafri, Benny Muhammad, Chamelo Roman, Ahmad Amiruddin/Sunarto, M Noh Alam Shah, Ahmad Bustomi, Waluyo, Leonard Tupamahu, Juan Revi Auriqto. 
Itulah perjuangan Arema di  Liga Champions Asia 2011 yang dikawal langsung wartawan Malang Post. Banyak pengalaman didapat dari laga tersebut. Mulai dari persiapan pertandingan yang profesional, hingga kondisi Jeonju World Cup Stadium. Rasanya stadion yang digunakan untuk Piala Dunia 2012 ini belum ada yang selevel di Indonesia. Kesimpulannya, sepakbola Korea Selatan memang jauh diatas Indonesia. Ya, bisa dikatakan, Korea Selatan enam level diatas  Indonesia. Seperti skor kekalahan Arema 6-0. (*)

Berita Lainnya :