Pelestarian Sumber Air, Petakan Potensi Wisata

 
KESIBUKAN sebagai wartawan tidak menghalangi tim Malang Post menggelar kegiatan besar. Di tengah kegiatan rutin hunting dan menulis berita, tim melakukan kegiatan berupa Ekspedisi Hulu Brantas. Aktivitas ini merupakan penelusuran hulu sungai Brantas mulai dari titik nol di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu hingga Bendungan Karangkates di Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang, tahun 2014 lalu. 
Ekspedisi melibatkan pejabat penting di negeri ini. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi adalah pejabat yang menutup rangkaian ekspedisi di Bendungan Karangkates. Dia diajak langsung menjemput tim ekspedisi yang masih mengarungi sungai menggunakan perahu di bendungan itu. Imam Nahrawi ikut naik perahu karet hingga mendayung dengan tangannya.
Menpora juga mengajak tim dokumentasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga saat menjemput tim ekspedisi hingga prosesi penutupan. Kegiatan itu direkam dalam video untuk menjadi dokumen resmi Kemenpora serta diunggah ke youtube. 
‘’Sejak awal ekspedisi, kami yakin Menpora siap datang ke Malang untuk penutupan ekspedisi Hulu Brantas di Bendungan Karangkates. Semua perjalanan ekspedisi dimuat di Harian Malang Post. Berita awal ekspedisi berjudul ‘Dibuka ER Ditutup Menpora’. Itu karena kami sudah melakukan komunikasi dengan pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menutup kegiatan ini,’’ ungkap Febri Setyawan, Ketua Pelaksana Ekspedisi Hulu Brantas Malang Post. 
ER dalam berita tersebut adalah Eddy Rumpoko, Wali Kota Batu. Dia adalah pejabat yang membuka ekspedisi ini. Itu karena Malang Post mengawali ekspedisi dari titik nol sungai terbesar di Jatim ini dengan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut mulai penghijauan, hiburan dan selamatan pada titik nol. 
Malang Post juga mengajak Wali Sumber, sebutan warga Desa Sumber Brantas dengan tugas melestarikan mata air sungai Brantas untuk melakukan selamatan. Selain warga, para tokoh Kota Batu hingga pihak Jasa Tirta juga ikut digandeng dalam kegiatan ini. Tujuan kegiatan dititik nol ini adalah menghijaukan kembali beberapa areal dengan tanaman masih kurang. Selain itu, kegiatan tersebut juga ikut memberikan semangat kepada Wali Sumber tidak bosan menjaga kelestarian sumber.  
Selama dua bulan, tim Malang Post bersama Kaliwatu Rafting Kota Batu melakukan penelusuran sungai Brantas. Tim melakukan penelusuran dengan jalan kaki untuk kawasan yang belum bisa dilalui dengan perahu. Tim kemudian melakukan penelusuran menggunakan perahu karet, biasa digunakan rafting untuk kawasan dengan arus deras. 
Ada berbagai temuan menarik dalam ekspedisi tersebut. Masih berada di Desa Sumber Brantas hingga Tulungrejo, ditemukan aliran sungai yang keruh. Itu karena air sungai sudah tercampur dengan lumpur saat terjadi hujan karena banyak aktivitas pertanian dengan membuka hutan. 
Ada juga tempat tempat menarik, yakni Coban Tujuh Bidadari di aliran sungai Brantas antara Kelurahan Temas dan Desa Torongrejo. Lokasi ini memiliki air terjun tingkat tujuh sehingga diberi nama Coban Tujuh Bidadari. Kawasan ini belum terekspos untuk wisata. 
Sayangnya, masih banyak warga membuang sampah ke sungai. Saat-saat tertentu, tim mendapati bulu ayam di dekat Coban Tujuh Bidadari. Bisa jadi, bulu ayam itu buangan dari warga yang memang memiliki usaha penyembelihan ayam. 
Ekspedisi ini juga mendapat apresiasi dari Rektor UMM (saat itu), Muhadjir Effendy dan Wali Kota Malang, H Moch Anton. Muhadjir memberangkatkan tim untuk etape kedua setelah etape pertama berakhir di UMM. Wali Kota Malang, H Moch Anton juga turun perahu dari sungai Brantas di belakang Balai Kota Malang hingga Jodipan. 
Temuan lain tim, masih banyak warga membuang kotoran manusia ke sungai, selain sekadar sampah. Kondisi ini yang menjadi air Sungai Brantas sangat tercemar. Malang Post juga merekomendasikan hasil temuan kepada pemerintah untuk ikut menjaga kelestarian dan kebersihan sungai. (**/van)

Berita Lainnya :