Persaingan Antar Media Jadi Bahasan Paling Seru


KORAN Malang Post yang masih terus eksis membuat penasaran mahasiswa Universitas Brawijaya. Seperti terungkap dalam beberapa agenda kunjungan mereka ke kantor redaksi. Tak sedikit yang bertanya bagaimana eksistensi koran di tengah gempuran media online.
Hari kedua agenda kuliah praktik, giliran mahasiswa Agribisnis kelas H Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) Malang melakukan kunjungan ke kantor Malang Post, Selasa (10/4). Ada 33 mahasiswa yang disambut hangat oleh Abdul Halim, redaktur Malang Post.
Mahasiswa mata kuliah Dasar Komunikasi ini sangat antusias menerima penjelasan seputar Malang Post.
Seperti yang disampaikan oleh Halim, tidak bisa dipungkiri bahwa media online berkembang pesat. Namun, Malang Post sebagai salah satu media cetak di Kota Malang yang sudah berdiri selama 19 tahun akan tetap optimis.
“Meskipun banyak yang mengatakan koran akan ditinggalkan oleh pembacanya, namun kami terus optimis bahkan hingga sepuluh tahun ke depan,” ujar Halim.
Ia melanjutkan dengan menimpali sebuah pertanyaan kepada peserta kunjungan apakah mungkin koran benar-benar tidak ada. Dengan penuh semangat mahasiswa serentak menjawab tidak mungkin.
“Koran tetap akan ada meskipun media online terus berkembang, karena koran memiliki keunggulan tersendiri khususnya dalam hal verifikasi data lebih akurat dan terpercaya,” tambahnya.
Menurut mahasiswa mata kuliah Dasar Komunikasi, Viky Susandi, melalui kegiatan kunjungan ini banyak ilmu yang didapatkan baik itu sejarah berdirinya Malang Post, dan ilmu jurnalistik.
“Dari sini kami mendapat ilmu bagaimana menyusun sebuah berita yaitu dengan menyusun kata-kata yang baik dengan menggunakan unsur utama 5 W + 1 H,” ujar Viky.
Usai kelas H, disusul kelas E dan F dengan jumlah 56 mahasiswa hadir di kantor Malang Post, Rabu (11/4) sore. Mereka diterima Buari, redaktur yang juga Sekretaris Redaksi Malang Post. Selain mendapat pengenalan tentang produk Malang Post, mereka juga mendapat penjelasan dasar jurnalistik, khususnya tentang penulisan berita.
    Seluruh mahasiswa tampak antusias mengikuti penjelasan materi. Hal ini dapat dilihat dari munculnya beberapa pertanyaan yang cukup kritis dilontarkan mahasiswa usai mendapatkan materi proses produksi koran. Salah satunya pertanyaan dari Habi yang ingin mengetahui tentang persaingan media online dan cetak.
Buari menjelaskan bahwa dengan adanya media online, justru menjadikan media cetak semakin kreatif dalam bersaing.  “Sekarang memang era online, oleh karena itu kita harus berkreasi. Contohnya, kita juga punya anak perusahaan media online. Jadi kita tidak terlalu khawatir. Dengan adanya persaingan, kita bisa lebih kreatif. Bagaimanapun media online dan media cetak itu kerja jurnalistiknya juga sama,” jelasnya.
Kunjungan diakhiri dengan memasuki ruang redaksi Malang Post untuk melihat secara langsung proses penulisan berita, penyuntingan berita hingga layout akhir desain koran. “Harapan kami, mereka bisa paham tentang proses media massa itu seperti apa. Sekaligus nantinya juga mahasiswa akan melihat berita di media massa untuk dianalisis tentang pesan beritanya, tentang daya tariknya, dan lain sebagainya,” kata Dea Nabila Putri, asisten praktikum dasar komunikasi Fakultas Pertanian. (mg7/yan/oci)

Berita Lainnya :

loading...