Pilkada 2018 Malang Hebat

 
MALANG - Untuk kali pertama, para Bakal Calon Wali Kota (Bacawali) dan Wakil Wali Kota Malang (Bacawawali) Pilkada Kota Malang 2018 duduk bersama dalam satu forum diskusi. Ada tujuh bakal calon Wali Kota Malang dan empat bakal calon wakil wali kota Malang yang hadir dalam Diskusi 1212 Pilkada 2018 “Malang Hebat” yang diselenggarakan Malang Post, Selasa (12/12) lalu.
Meski aura persaingan yang ketat tercium kuat, bakal-bakal calon wali kota dan wakil wali kota Malang yang hadir ini mampu memberikan ciri khas Kota Malang yang hebat dalam keguyubannya. Meskipun berbeda pandangan dan visi misi dalam membangun Kota Malang.
Bakal Calon Wali Kota Malang dari PDI Perjuangan Drs H. Sutiaji dalam diskusi yang bertempat di Ballroom Hotel Ijen Suites memaparkan bahwa program e-budgeting menjadi solusi cepat dalam pembangunan Kota Malang. 
“Memang sekarang kan memang lagi ramai KPK mengawasi keuangan daerah-daerah. Kita tidak usah takut salah satunya cara yang bisa dilakukan adalah penerapan e-budgeting,” papar Wakil Wali Kota Malang ini.
Ia memaparkan bahwa penerapan konsep e budgeting dalam pemerintahan kedepan akan lebih efektif dan aman. Selain seluruh pengeluaran dan belanja daerah menjadi transparan, konsep ini dapat menghindari adanya kesalahan-kesalahan yang dapat mengundang permasalahan hukum nantinya.
Sutiaji mengatakan bahwa dengan sistem pemerintah yang terintegrasi seperti itu akan menciptakan sinergi yang otomatis. 
“Karena pemerintahan tidak bisa dilakukan sendirian. Semua harus berani untuk mengontrol satu sama lain makanya tidak bisa sendirian,” papar Sutiaji.
Komentar Sutiaji soal penerapan e-budgeting kemudian juga ditanggapi oleh Bakal Calon Wali Kota Malang lainnya dari Partai koalisi HaraPAN Pembangunan Ya’qud Ananda Gudban yang juga turut hadir. Ia menyampaikan bahwa konsep penerapan e-budgeting menjadi buah pemikirannya sejak dahulu. 
Bahkan Nanda menyebutkan bahwa konsep tersebut sudah pernah disulkannya sebagai anggota legislatif Kota Malang. Akan tetapi tidak mendapatkan perhatian serius.
“Ya Pak Sutiaji konsep e budgeting itu awalnya dari saya ya, itu juga jadi tema disertasi saya. Kita sudah pernah mengusulkan ini akan tetapi hambatannya kami mengusulkan tapi tidak bisa eksekusi,” tegas Nanda dihadapan puluhan peserta diskusi dari berbagai kalangan lainnya. 
Ketua DPC Partai Hanura Kota Malang ini mengungkapkan selama dua periode dirinya menjadi anggota DPRD Kota Malang hambatan utama yang dirasakan berhadapan dengan Pemkot adalah eksekusi usulan. 
Dengan alasan inilah dirinya mantap maju untuk menjadi orang nomor satu di Kota Malang. Menata Kota Malang menjadi lebih baik lagi menjadi jargon utamanya.
“Filosofinya ya membangun Kota Malang bersama-sama. Ayo Noto Malang, saya tidak akan mengelompokan orang-orang. Bahkan ibu-ibu rumah tangga bisa menata kota malang hanya dengan tidak membuang sampah ke sungai itu saja sudah bisa,” tuturnya. 
Dengan semangat menata kota dan merangkul seluruh kalangan masyarakat Nanda meyakini dirinya bisa memimpin Kota Malang ke depan. 
Pemikiran yang sama juga dilontarkan Bakal Calon Wali Kota Malang lainnya Dr. Dedy Wahjudi. Ia pun memaparkan konsep membangun Kota Malang dapat dilakukan dengan menggunakan dua desain utama.
“Membangun sebuah kota tidak hanya dengan mendesain infrastukturnya dengan baik. Tapi juga mendesain manusianya,” papar Dosen ITB ini.
Ia menyebutkan bahwa pemikiran-pemikiran yang dilontarkan baik oleh Sutiaji ataupun Nanda pun menjadi pemikirannya juga dalam membangun Kota Malang. Akan tetapi ia menekankan pula pada Kota Malang pun layak mendapatkan kembali jati dirinya sebagai kota yang ramah kehidupan.
“Saat nanti pintu tol dibuka investasi akan mencuat tinggi. Kemacetan pasti tidak bisa dihindarkan kalau kota kita ini ga siap problematika bakal lebih kompleks. Maka dari itu tidak hanya dibangun infrastruktur tapi pola mental warga juga,” jelas pria yang mengajukan diri sebagai bakal calon wali kota lewat PDI Perjuangan ini. 
Pemikiran-pemikiran dalam membagun Kota Malang tersebur terus mengalir dalam diskusi yang dipimpin langsung oleh Pemimpin Redaksi Malang Post Dewi Yuhana. Bakal calon wali kota lainnya seperti Kolonel (Purn) Agus Subagyo, Gandung Raiful Huda, Wahyu Eko Setiawan, dan Ir. Hadi Prajoko pun dengan semangat memberikan pemikiran yang senada. 
Tidak hanya bakal calon wali kota saja yang menggebu-gebu ingin memberikan suaranya. Bakal calon wakiil walikota Malang yakni Siswo Waroso, Achmad Wanedi, Daniel Sitepu pun juga memaparkan apa saja kualitas terbaik mereka untuk memimpin.
Salah satunya terlontar dari Bakal Calon Wakil Wali Kota Malang dari PKB Siswo Waroso. Ia menjelaskan bahwa dirinya akan menjadi wakil yang komunikatif dan menjaga walikotanya. “Wakil itu harus tau tugas walikotanya tidak boleh nyerudul sendiri,” ungkap Siswo dalam diskusi. 
Hal yang senada juga dijabarkan Bakal Calon Wakil Wali Kota Malang dari PDI Perjuangan Daniel Sitepu. Ia menegaskan bahwa tugas wakil walikota pun penting untuk dijalankan serius. 
Ia mengatakan bahwa wakil wali kota pun harus mampu memberikan masukan-masukan bagi walikotanya sendiri. Termasuk jika walikotanya melakukan kesalahan,
“Harus berani negur dan tegas. Kalau wali kotanya ga mau ditegur, lebih baik wakilnya keluar saja. Harus mampu tegas intinya,” pungkas Daniel.
Diskusi 1212 Pilkada 2018 Malang Hebat Malang Post ini merupakan diskusi Malang Post Forum terakhir yang diadakan selama 2017 ini. Seluruh pemikiran-pemikiran  bakal calon walikota dan wakil walikota Malang tersebut diharapkan menjadi embrio penyusunan program Kota Malang di kepemimpinan selanjutnya. (ica/ary)

Berita Lainnya :