Potret Pendidikan dari Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal

 
MENEMPUH Perjalanan hingga lima jam untuk sampai di sekolah menjadi hal biasa bagi anak-anak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan tersebut bukan ditempuh dengan kendaraan umum atau sepeda motor, melainkan dengan jalan kaki.
Hal ini biasa dilakoni anak-anak di sana. Semangat tinggi untuk bisa sekolah menggelora di hati mereka, meski kadang tugas membantu orang tua di rumah menghalangi langkah mereka untuk sampai di sekolah. 
Setidaknya itulah yang berhasil saya potret ketika mengikuti kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) Program Sarjana mendidik di daerah 3 T “Terdepan, Terluar, Tertinggal” atau SM3T bersama Universitas Negeri Malang (UM). Pada 2012 dan 2013 lalu, saya dua kali mengikuti kegiatan tersebut. Kebetulan, lokasi monev di kabupaten yang sama, tapi lokasi kunjungannya berbeda.
Yang mengesankan bukan hanya semangat anak-anak NTT untuk sekolah, tapi juga semangat peserta SM3T. Mereka adalah sarjana S1 yang wajib mengajar di sekolah-sekolah di daerah 3T. Para guru ini pun harus punya daya juang tinggi jika ingin bertahan satu tahun di sana. Memang tidak mudah, karena medan menuju sekolah yang amat sulit dijangkau. Belum lagi perjuangan mereka menyesuaikan diri dengan adat yang ada. 
Tak hanya itu, semangat para dosen UM untuk bisa menemui para peserta SM3T ini juga layak diacungi jempol. Meski harus berjalan berkilo-kilo meter untuk menemui peserta SM3T, mereka tak kenal lelah. Seakan medan yang ditempuh adalah yang setiap hari mereka lalui. Tak jarang kami harus turun dari mobil dan naik turun bukit demi mencapai sekolah-sekolah lokasi pengabdian. Ketika berkunjung ke Lamba Leda, Manggarai misalnya, sepanjang perjalanan beberapa kali rombongan monev yang terdiri dari enam orang harus turun dari mobil. Ikut menyingkirkan batu besar yang menghalang di jalan atau menguruk tanah dengan batuan supaya lubangnya tidak terlalu dalam. Berangkat pagi hari, balik ke penginapan di malam hari menjadi kegiatan rutin selama monev berlangsung. Saking padatnya, kami pun tak punya kesempatan untuk sekadar berwisata kuliner atau plesir. Namun, perjalanan sepanjang menuju lokasi begitu indah dan mengagumkan. Alam yang sejuk dan asri terhampar luas. 
Kesan mendalam juga terasa dari keramahan penduduknya. Setiap kali kami berkunjung, ada saja penyambutan istimewa yang diberikan. Mulai dari kuliner khas daerah, kopi Manggarai yang terkenal, hingga tarian-tarian oleh anak-anak di sekolah. Yang masih saya ingat kala itu, Rektor UM Prof Dr Suparno mendapat cinderamata berupa ayam jago khas Manggarai. Ayam tersebut akhirnya dibawa hingga ke Malang. 
Program SM3T adalah Program Pendidikan Profesi Guru bagi sarjana pendidikan yang diawali dengan pengabdian selama 1 tahun penuh di daerah terkategori 3TSetelah para peserta program SM3T ini selesai menunaikan tugas mendidiknya di daerah yang ditentukan, maka mereka berhak untuk mengikuti program PPG berbeasiswa di 12 Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK). (oci)

Berita Lainnya :