Sugeng Diinterview Radio Australia, Malang Post Jadi Saksi Karir Ardi


Publikasi ratusan karya tulisnya di Malang Post, Sugeng Winarno pernah sampai diinterview oleh SBS Australia hingga dilabrak oleh preman. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, memang penulis aktif yang sudah publikasikan karyanya melalui beragam media. Kisah itu terangkum dalam sesi diskusi terkait literasi media massa di Graha Malang Post Jumat (2/8).
Pria yang menempuh pendidikan magister di Curtin University of Technology, Australia ini suatu ketika pernah menulis opini. Isinya terkait dengan pemilihan legislatif bertajuk 'Caleg for Sale' yang terbit pada Mei 2013 di Malang Post. Tulisannya ketika itu ternyata menyita perhatian hingga ke media negeri Kanguru yakni radio SBS. Hingga akhirnya diminta untuk sesi interview streaming terkait tulisan.
"Sudah kesekian kalinya saya nulis opini di Malang Post,  kemudian saya upload di facebook dan ternyata SBS Australia menghubungi dan akhirnya minta sesi interview itu," ungkap Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Jawa Timur ini.
Sugeng sejauh ini dikenal sebagai salah satu sosok akademisi yang mampu menghasilkan karya tulisan populer paling aktif. Total karya tulisannya sudah mencapai angka ribuan, sedang karya opini yang berhasil dipublish di media massa telah mencapai angka 188 tulisan.
"Biasanya akademisi di kampus itu terlalu ilmiah. Mereka menulis berbagai macam pandangan teori tapi nulis ngepop sulit sekali. Padahal tulisan populer juga bisa berikan angka tersendiri untuk sitasi 'google scholar'," urainya di depan peserta diskusi di Malang Post.
Pada diskusi yang bertajuk 'Menggairahkan Budaya Literasi Lewat Menulis di Media Massa' ini, hadir oleh para penulis opini yang paling aktif mengirim karyanya ke Malang Post. Mereka adalah Slamet Yuliono guru SMPN 1 Turen, Ardi Wino Saputro Dosen Unika Widya Mandala Madiun, Ani Sri Rahayu FKIP Civic Hukum UMM, Djajusman Dosen Universitas Negeri Malang.
Lebih lanjut, Sugeng menyebut betapa pentingnya sitasi google scholar bagi seorang akademisi di era ini. Sebab, profil seseorang akan dengan mudah dicek melalui sitasi tersebut oleh publik umum. Sehingga kredibilitasnya bisa mudah dikroscek oleh masyarakat umum melalui internet.
Meskipun baru beberapa tahun belakangan media massa kemudian terkonvergensi secara online, namun hal itu sudah harus dimaksimalkan. Sebab saat ini merupakan era digital, sehingga semuanya harus bisa dilacak secara digital. Lalu, dengan adanya sitasi google scholar maka karyanya lebih bisa jauh lebih bermanfaat kepada orang lain melalui repository.
Sugeng juga sempat mengkisahkan bagaimana ia memulai aktif dalam menulis di media massa. Awalnya ia merasa panas terhadap salah seorang rekan sejawatnya yang sudah publikasikan ratusan karya di media massa. Ternyata itu memacunya untuk mulai menulis dan bisa konsisten.
"Waktu itu saya belum apa-apa Pak Nurudin sudah publikasikan ratusan tulisan di media massa, saya jadi panas dan terpacu menulis," imbuhnya.

Berita Terkait