Babi Berbulu Domba Teknologi Austria


MALANG – Beredar informasi mengenai babi berbulu domba berjenis mangalitsa yang diciptakan melalui teknologi baru oleh Austria. Babi ini disebut sebagai peranakan persilangan hasil perkawinan babi dengan domba. Babi berbulu domba ini disebut akan merancukan perbedaan antara babi dengan biri-biri.
Tujuannya adalah mengaburkan atau menipu umat Islam di penjuru dunia termasuk Indonesia, agar mengonsumsi babi berbulu domba ini. Babi Mangalitsa adalah teknologi baru Austria yang merancukan babi dengan biri-biri. Tujuannya untuk mengelabuhi umat Islam supaya makan babi yang disangka daging biri-biri dibuang kepala selepas disembelih.
Tolong share untuk kepentingan umat Islam. Maraknya informasi tentang Mangalitsa cukup membuat masyarakat muslim khawatir terhadap peredaran daging Mangalitsa. Namun, fakta soal Mangalitsa sebenarnya biasa saja. Hewan ini bukan produk genetik baru dari Austria hasil persilangan babi dan biri-biri.
Faktanya, babi jenis ini sudah ada sejak tahun akhir abad 18 dan awal abad 19, dan merupakan kawin silang antara babi jenis Bakonyi dan Szalontai asal Hungaria dengan babi Sumadia asal Serbia. Persilangan itu menghasilkan babi yang aneh. Jika biasanya babi tidak memiliki bulu, babi Mangalitsa ini memiliki bulu tebal seperti biri-biri.
Mangalitsa adalah jenis babi yang paling populer di daerah Balkan hingga 1950. Terdapat 30.000 babi jenis ini di Hungaria pada tahun 1943. Pada 2006, Mangalitsa mulai diimpor ke Inggris. Memang, orang yang pertama kali melihat binatang Mangalitsa ini pasti akan berpikir bahwa hewan ini adalah domba.
Mangalitsa merupakan spesies babi dengan harga yang sangat mahal. Mangalitsa mengandung lemak antara 65-70 persen, sehingga hanya diminati oleh kalangan tertentu di Hungaria dan beberapa negara Eropa lainnya. Sementara untuk daging babi Mangalitsa dipastikan tidak beredar di Indonesia.
Peredaran daging hewan ternak di Indonesia diawasi oleh pemerintah. Yaitu, Kementerian Pertanian. Dalam ketentuan pasal 36 UU RI Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pemerintah berkewajiban untuk menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan pemasaran hewan atau ternak dan produk hewan di dalam negeri maupun ke luar negeri.
Sementara, produsen harus memenuhi ketentuan pencantuman label halal untuk setiap produk yang diperdagangkan di Indonesia. Hal ini diatur dalam ketentuan pasal 2 PP No  69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Dengan ini, produsen daging tidak bisa serta merta mendistribusikan produksi daging mereka tanpa izin.
Kasubdit Produk Halal Direktur Urais dan Binsyar, Siti Aminah mengatakan, pengawasan masyarakat terhadap peredaran daging hewan sangat penting. “Ini menjadi faktor pendukung agar daging Mangalitsa tidak benar-benar beredar di negeri kita. Kontrol masyarakat diperlukan dalam mengawasi pangan yang beredar,” tegasnya.(fin/lim)

Berita Lainnya :