Benarkah Kementerian Agama Menghentikan Pencetakan Al Quran ?


Informasi tentang dihentikannya pencetakan Alquran oleh Kementerian Agama RI menjadi viral di media sosial. Informasi itu dikemas dalam poster bergambar mantan Menteri Agama Maftuh Basuni dan judul teks yang tertulis, ‘Program Percetakan Al Qur’an Dihentikan, Mantan Menag Menangis. Astagfirullah..’.

Dalam poster itu terdapat penggalan berita berisi pernyataan Maftuh Basuni yang menyayangkan investasi mesin pencetakan Al Quran senilai Rp 28 miliar akan sia-sia karena menjadi besi tua.
Ada pula teks tambahan dengan ukuran font lebih besar di bagian bawah poster yang tertulis: kian hari semakin gamblang kemana arah kiblat rezim ini, lambang PKI bertebaran, Yahudi diakui, Syah dipelihara sementara pencetakan Al Quran dihentikan.
Di Facebook, poster itu diunggah akun Nia Rahma pada 10 Juli 2019. Dan unggahan itu telah dibagikan ulang sebanyak 6,1 ribu kali.
Informasi mengenai dihentikannya pencetakan Al Quran milik Kementerian Agama di Ciawi, Bogor, Jawa Barat sebenarnya terjadi pada 2016. Informasi itu bermula dari pernyataan mantan Menag Maftuh Basuni di sejumlah media online.
Penggalan berita yang terdapat di poster yang disebarkan, dikutip dari berita yang dipublikasikan di salah satu situs berita online berjudul ‘Mantan Menag Ungkap 'Matinya' Percetakan Alquran Negara. Pada  edisi 11 Agustus 2016. Di berita tersebut, Maftuh Basyuni menyatakan bahwa percetakan kitab Alquran milik Kementerian Agama segera terkubur dan mesin-mesinnya yang bernilai Rp28 miliar menjadi besi tua. "Ya, jadi mesin besi karatan dan besi tua," ungkap Maftuh saat itu.

Pada alinea ketiga berikutnya, tertulis : dengan nada sedih dan suara serak lantaran kesehatannya terganggu, menteri agama periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I tersebut mengatakan tidak habis pikir dana yang diinvestasikan demikian besar dan diharapkan dapat memenuhi harapan program satu rumah umat Islam dapat memiliki satu Alquran, dalam perjalanannya justru segera masuk ‘liang kubur’ alias mati tak terurus.
Lembaga Percetakan Al Quran (LPQ) milik Kementerian Agama di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, dimulai pada tahun 2008. LPQ tersebut dibangun di atas lahan seluas 1.530 meter persegi dengan biaya hingga Rp 30 miliar dari anggaran negara Kapasitas produksinya sampai 1,5 juta eksemplar per tahun. Saat itu, LPQ diharapkan mampu memenuhi program pengadaan Al Quran bagi masyarakat dan meminimalisasi salah cetak Al Quran. Namun pada 2016, pencetakan Al Quran dihentikan sementara karena ada perubahan manajemen dari Lembaga Percetakan Alquran (LPQ) menjadi Unit Percetakan Alquran (UPQ).
Aktivitas pencetakan Al-Quran di UPQ kembali berjalan pada 2016. Saat itu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam mencetak Alquran sebanyak 35 ribu. Peluncuran saat itu pun dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Selasa, 25 Oktober 2016, di Ciawi, Bogor. Sebanyak 35 ribu eksemplar tersebut segera didistribusikan ke masyarakat, baik melalui masjid, yayasan, ormas, dan lainnya. (imm/)