Biopsi Bikin Kanker Tambah Parah


MALANG - Beberapa waktu belakangan, di beberapa media sosial, mulai dari Facebook, Twitter hingga WhatsApp beredar pesan berantai yang berisi tentang bahaya biopsi untuk pasien kanker maupun tumor. Dalam pesan tersebut dijelaskan, bagi pasien kanker atau tumor yang melakukan biopsi, maka pertumbuhan sel kanker maupun tumor tersebut akan bertambah parah hingga menimbulkan kematian. Akibatnya, banyak pasien tumor ataupun kanker yang takut dan menolak pemeriksaan biopsi.
Informasi tersebut sangat meresahkan masyarakat. Ketika ditelusuri, informasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar alias hoax. Menurut beberapa ahli, informasi tersebut adalah mitos yang menyesatkan.
Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, Sp PD-KHOM mengungkapkan, pemeriksaan biopsi tidak dilakukan, pengobatan menjadi terlambat sehingga tumor ataupun kanker akan semakin parah. “Sehingga, pemeriksaan biopsi diperlukan untuk mengetahui tumor tersebut jinak atau ganas. Tanpa diagnosis untuk mengetahui jenisnya, kanker tidak akan bisa diobati,” terang dia.
Pada dasarnya, tumor atau benjolan ada dua macam, yakni yang jinak dan yang ganas. “Tumor jinak ini sel rusaknya terkumpul pada satu tempat dan tidak keluar dari bungkusnya, jadi kalau diambil beres. Tapi kalau yang ganas atau kanker ini (sel rusaknya) sudah berantakan dan menyebar,” ujar dia.
Dia menegaskan, tumor jinak selamanya tidak akan berubah menjadi tumor ganas, meskipun dilakukan biopsi. “Kadang ada yang lemaknya menjadi benjol. Kalau ini jinak, didiamkan saja juga tidak apa-apa, atau ambil sesuai keinginan. Miom (pertumbuhan sel tumor di dalam atau sekitar uterus yang tidak bersifat kanker) juga sama, tidak akan berubah ganas,” kata dia.
Namun, untuk mengetahui apakah sebuah tumor jinak atau ganas, pemeriksaan biopsi harus dilakukan. Tanpa diagnosis untuk mengetahui jenisnya, kanker tidak akan bisa diobati. “Kalau tumor ternyata ganas atau kanker, itu berarti sudah ganas dari awal,” tandas dia.(tea/lim).