Bukan Karena Harga Cabai Anjlok


MALANG - Beredar kabar petani cabai asal Kulonprogo, Sukarman, menyemprot lahan cabainya dengan herbisida sehingga tanaman cabai di lahan tersebut mati seketika. Tidak sedikit klaim yang menyebutkan bahwa Sukarman, melakukan itu karena kecewa dengan harga cabai yang turun drastis. Sementara biaya panen justru lebih mahal.
Terkait kabar yang beredar itu, Sukarman, mengakui memang menyemprotkan herbisida pada tanaman cabai supaya mati. Namun ia membantah bahwa apa yang dilakukannya bukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap harga capai yang turun drastis.
Melainkan karena  tanamannya memang sudah tidak produktif. Tanaman cabai sudah melewati panen puncak, sehingga sudah waktunya diganti tanaman lain.
“Memang ada pemakaian semacam herbisida, tetapi itu saya lakukan semata mata untuk menghemat ongkos tenaga kerja. Jadi bukan karena saya dan para petani di sini putus asa dengan harga murah, tapi skema pola tanamnya memang harus beralih dengan komoditas lain,” terang Sukarman.
Sukarman memastikan petani masih tetap semangat menanam cabai dan siap mengamankan pasokan saat puasa dan lebaran nanti. Pihaknya sudah menyiapkan sekitar 20 hektar cabai untuk persiapan memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran nanti.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Moh Ismail Wahab menyikapi kondisi saat ini dan kebutuhan di masing-masing wilayah, maka pola tanam juga harus dijaga sesuai kebutuhan dan permintaan.
“Jadi kalau memang sudah ada pola tanam yang sudah ditetapkan, harus dipatuhi. Seperti yang terjadi di Kulonprogo, ternyata tanaman cabai yang disemprot dengan pembasmi gulma memang sudah melewati masa produktifnya alias sudah tua,” papar Ismail.(agp/lim)

Berita Lainnya :