Server KPU di Hack, Hoax


Beberapa hari belakangan, di media sosial facebook maupun WhatsApp (WA) beredar bahwa server milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkena serangan hacker. Dalam pesan singkat tersebut, juga disertai dengan postingan dua gambar tampilan logging aplikasi yang akan meretas situs atau server KPU. Bahkan, juga disertai dengan video.
Tentunya, kabar tersebut sempat menggemparkan publik dan membuat resah masyarakat. Setelah ditelusuri, kabar yang beredar tidak sepenuhnya benar alias hoax.
Hal itu diungkapkan oleh salah satu pakar keamanan siber, Pratama Persadha. Ia mengatakan yang tersebar di medsos itu hoax, video atau gambar yang diambil dan tersebar di Facebook itu adalah simluasi dari situs ThreatCloud. Ilustrasi tersebut merupakan dashboard perusahaan penyedia antivirus atau router.
"Itu bukan ilustrasi dari serangan ke KPU. Banyak yang menyediakan layanan ini (dashboard). Mau ada Pilpres atau enggak pattern-nya yang gitu-gitu saja," kata dia.
Lebih lanjut Pratama menuturkan, upaya untuk menyerang server KPU tentu tidak ingin terdeteksi oleh sistem pengaman yang terpasang. Karenanya, membutuhkan waktu yang cukup lama dan memang sulit untuk melakukan peretasan.
Sementara itu, KPU memastikan sistem IT mereka aman. Hal ini disampaikan terkait dengan tak bisa diaksesnya situs KPU pasca Pemilihan Presiden (Pilpres 2019), Rabu, 17 April 2019.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Pramono Ubaid Tanthowi memastikan, sistem IT KPU sebenarnya aman-aman saja. "Kalaupun hari ini atau beberapa saat lalu down karena memang trafiknya sangat tinggi," kata dia.
Menurut Pramono, tingginya trafik kunjungan ke situs KPU lantaran orang penasaran dengan hasil penghitungan cepat (quick count) yang berbeda dengan penghitungan suara KPU yang dipublikasikan di situs mereka.
"Pada hari pertama ini, trafiknya kan tinggi sekali mungkin di dua hari selanjutnya trafiknya sudah lebih normal," ucap dia.
Pramono memastikan, penghitungan suara di KPU sebenarnya berbasis manual. Saat ini KPU tengah merekapitulasi semua dokumen formulir secara berjenjang. "Sementara, sistem IT untuk perhitungan itu hanya alat bantu untuk mempublikasikannya saja, tidak ada kaitannya dengan proses penghitungan. Hanya untuk publikasi saja," tandas dia.(tea/jon)