magista scarpe da calcio Lura yang Lemah Gemulai


Lura yang Lemah Gemulai

 
BATU - Suasana terasa begitu lembab malam itu, saat Tim Penghuni Lain Malang Post dan Nocturnal Division menjejakkan kakinya di Vila Alipah Kota Batu, yang kini difungsikan menjadi Gudang Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Batu, Sabtu (18/11) malam.
Tidak hanya karena tempat ini berada di atas Sumber Gemulo, kondisi gudang logistik yang kosong sedikit banyak membuat suasana saat itu begitu basah. Dibantu Muhammad Nastain, penjaga gedung, Muhammad Dhani Rahman, anggota tim Penghuni Lain Malang Post mematikan satu persatu lampu yang ada di bangunan itu. Mematikan listrik langsung dari dari pusat saklar listrik tidak mungkin dilakukan karena secara otomatis mematikan bangunan mirip gardu di dekat Sumber Gemulo yang selama ini dihuni oleh Sulikanah dan anaknya yang menjadi penyandang disabilitas.
Cerita-cerita horor yang dilontarkan oleh pegawai Dinas Sosial dan Tenaga Kerja yang dahulu berkantor di tempat ini menjadi pedoman eksplorasi yang dilakukan oleh tim. Bangunan depan yang dijadikan posko BPBD tidak dimatikan, karena menjadi pusat pengendalian operasi BPBD, dimana banyak alat komunikasi.
Di tempat ini ada dua mahluk gaib yang pernah menampakkan diri kepada pegawai Dinas Sosial. Sebuah mahluk besar berwajah tidak sangar yang diyakini gendruwo dan seorang nenek berpakaian khas Jawa, menggunakan kemben dan rambutnya digelung (diikat ke belakang).
Di belakang ruangan ini berdiri Pohon Alpukat yang beberapa pegawai dan anak pegawai sempat melihat penampakan sekelompok Kuntilanak. Di sisi Timur  pohon ini terdapat musala, kemudian di sisi Timurnya lagi ada sebuah gedung bertingkat yang lantai bawahnya adalah aula yang kini difungsikan untuk ruangan Tagana. Sementara lantai dua digunakan untuk kamar pegawai BPBD.
Di sisi Timurnya terdapat menara tandon air dan mesin penyedot air. Ada sebuah sebuah pohon berdiri dengan kondisi yang sangat lembab, dan di sana sini terdapat barang-barang teronggok tidak terpakai.
Sementara itu di sisi Utara terdapat bangunan yang seolah terpendam dalam tanah. Karena kondisinya rata dengan jalan masuk menuju gudang ini. Bangunan ini berlantai tiga, yang dilengkapi dengan dua tangga. Di dalam bangunan ini dulu dijadikan ruangan-ruangan kantor yang bersekat.
Di bawah bangunan ini terdapat sebuah kolam yang sangat besar, berdampingan dengan Sumber Gemulo hanya terbatas sebuah tembok setinggi 3 meter. Di pojok kolam terdapat sebuah gardu yang digunakan untuk menyimpan mesin diesel, berpintu seng.
Sejak awal Rifki Nur Hidayat, anggota Nocturnal Division merasakan adanya energi kaum astral di dekat pohon Alpukat. Beberapa kali ia bertubrukan dengan kaum astral ini membuatnya terasa mual dan akan muntah. Beberapa kali Rifki meminta kepada rekannya Ari Sukma Wulandari untuk menghilangkan aura negatif di tubuhnya. 
Tujuan pertama tim langsung ke pinggiran kolam, namun tim tidak bisa mendekat bibir kolam karena jalan menuju kolam sangat becek dan licin. Di tempat ini Agung Priyo, Ketua Tim beberapa kali meneriaki  beberapa kaum astral yang ada di dekat kolam dan gardu mesin diesel, untuk mengundangnya naik ke atas.
Rifki punya cara tersendiri untuk mengundang kaum astral ini, ia meletakkan sebatang rokok yang sudah disulutnya. Undangan ini disambut mahluk astral ini dengan menyedot rokok tersebut. Sedikit demi sedikit tim menggiring mahluk astral ini naik ke atas, ke jalan utama vila. Rifki, Wulan dan Guest Gesang, Redaktur Foto Malang Post yang mendampingi eksplorasi malam itu masuk ke dalam gedung bertingkat yang berdiri sejajar dengan kolam.
Di tempat ini keduanya melihat sosok wanita yang menggunakan baju putih panjang, rambut sebahu berparas wanita Jawa berkulit kuning langsat dan cantik. Keduanya mencoba berkomunikasi, namun wanita berbaju putih ini mencoba menghindar dengan berjalan ke kamar mandi yang ada di pojok ruangan.
"Saya sempat berinteraksi dengannya, dia mengatakan lebih suka kalau bangunan ini dihuni, karena terlihat interaksi sosial di tempat ini. Ia juga meminta jangan sampai ruangan ini kotor," ujar Rifki. 
Tidak lama interaksi ini berlangsung, wanita berbaju putih panjang ini menghilang, hingga akhirnya tim menuju ke dekat gedung bertingkat yang berada di samping Musala. Di tempat yang gelap ini  Kartika Ari Sakti dari Nocturnal Division membuka aura Guest Gesang dan Danang Dermawanto, warga Kampung Anyar, Kelurahan Sisir yang ikut dalam eksplorasi tersebut.
Saat dibuka auranya oleh Kartika Ari, Guest dan Ambon, panggilan akrab Danang merasakan punggungnya terasa sangat panas. Setelah dibuka auranya, keduanya berdiri menatap ke arah sudut gelap bangunan ini. 
Di tempat ini Guest melihat penampakan sebuah sosok hitam dan besar di pojokan dekat menara penyimpan mesin penyedot air.  Ia juga melihat beberapa kaum astral mengintip dari atas gedung dan dari deretan vila yang ada di atas lokasi eksplorasi. Berbeda dengan Guest, Ambon yang dahulu pemain jaran kepang ini gagal melihat penampakan. 
"Mungkin karena saya terlalu sering Adzan, jadi nggak bisa lihat," ujar siswa kelas X sebuah sekolah swasta di Kota Batu yang  sudah tidak aktif di jaran kepang dan rajin salat berjamaah di masjid dan musala ini. 
Ditempat ini terdengar beberapa kali ketukan, dari balik gedung bertingkat, menandakan keberadaan kaum Astral ini. Saat bersamaan Kartika Ari, membakar sebuah kertas di depan Pohon Alpukat yang ada di samping musala.
Selepas itu Kartika Ari duduk didepan kertas yang dibakarnya, hingga kemudian tubuhnya mendadak lunglai. Kartika Ari terkulai lemas, Rifki dan Wulan mencoba menyadarkannya.
Sesaat Ari tersadar, namun tatapan matanya menjadi kosong dan bahasa tubuhnya berubah menjadi lebih gemulai. Rifki mengatakan kalau saat itu ada kaum Astral yang merasuki tubuh Ari.  
"Namamu siapa ? Tinggal dimana ?," tanya Rifqi kepada lelembut wanita yang merasuki tubuh Ari.  Dari mulut Ari terdengar lirih suara wanita, begitu pelannya hingga tim harus mendengarkan suara lelembut wanita ini dengan sangat dekat.
"Nama saya Lura, saya tinggal di bawah," jawab makhluk astral yang merasuki tubuh Ari. Wanita bertubuh tinggi bernama Lura ini mengaku sudah berusia 950 tahun dan sudah lama tinggal di tempat ini. 
Beberapa kali secara tidak sengaja Rifqi memegang tangan Ari, namun buru-buru Ari menariknya menggambarkan kalau Lura tidak suka dipegang tangannya. Namun, Lura juga menunjukkan ketertarikan kepada pria tampan. Seperti saat Agung Priyo menggodanya, wajah Lura seperti tersipu malu, sambil dua tangannya terus mengelus rambutnya yang terurai panjang.
Kesempatan datangnya Lura ini dipergunakan Rifqi untuk banyak bertanya beberapa sosok yang sempat dilihatnya. Ada prajurit berkuda, ada kuda berkepala manusia, ada seorang pria dengan baju compang camping berambut gondrong dengan muka hancur berdarah-darah wajahnya terlihat sedih.
Ketika ditanya, apakah Lura mengenalnya, ia mengatakan hanya mengetahui namun tidak begitu mengenal sosok kaum astral yang lain. Menurut Lura di tempat ini dahulu adalah hutan belantara.Karena lelah, Lura minta keluar dari tubuh Ari, Rifqi pun mempersilahkan. Saat itu Rifqi menawarkan kepada Lura, apakah memerlukan bantuan untuk keluar dari tubuh Ari atau bisa dilakukan sendiri. Saat itu Rifqi meminta kepada Lura untuk memanggil kaum astral yang tinggal tempat yang sama.(dan/lim)

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top