Karakter Utama Rasulullah SAW



Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat hebat. Ia seorang nabi, rasul, kepala pemerintahan, pemimpin perang, suami, ayah, sekaligus sahabat yang luar biasa. “Ada beberapa karakter atau prilaku utama yang dimiliki Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (contoh teladan) dalam membangun komunikasi sosial atau hubungan antarsesama manusia. Karakter utama ini tidak hanya berlaku bagi Rasulullah, tapi juga bagi umatnya. Termasuk di dalamnya guru, ustadz, pemimpin, orang tua dan sebagainya,” kata Guru Besar IPB Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat.
Kiai Didin menambahkan, karakter utama Rasulullah SAW yang sudah seharusnya diikuti oleh umatnya itu termaktub di dalam Surat Ali Imran ayat 159; "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."
Menurut Kiai Didin, berdasarkan ayat Alquran tersebut, setidaknya ada tujuh karakter utama yang dimiliki Rasulullah SAW, yang patut jadi pegangan para guru, pemimpin maupun orang tua. 
“Karakter pertama yang perlu dimiliki seorang guru, pemimpin atau orang tua yang ingin berhasil adalah harus selalu dekat dengan Allah,” tutur Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat.
Karakter kedua, tidak ada jarak yang menyebabkan tidak ada komunikasi antara guru, pemimpin atau orang tua terhadap murid, bawahan atau anaknya.
“Seorang guru, pemimpin dan orang tua, harus membangun empati dan simpati kepada orang yang dihadapinya,” tutur mantan Ketua Umum Baznas.
Karakter ketiga, kata Kiai Didin, tidak kasar, apalagi kejam, meski hanya berupa perkataan. “Hebatnya Rasulullah adalah setiap orang yang sudah kenal beliau, maka mereka selalu ingin dekat dengannya. Sekarang kedekatan seperti itu mulai hilang. Hubungan yang terjadi antara guru dan murid, atas dan bawahan, ustaz dan jamaah, dai dan umatnya, terlalu formal,” paparnya.
Karakter keempat, seorang guru, pemimpin maupun orang tua memaklumi  kalau murid, anak buah, atau anaknya ada kekurangan.
“Maklumi mereka, maafkan mereka, lalu cari solusi yang terbaik,” ujar pakar ekonomi syariah ini.
Karakter kelima, memohonkan ampunan kepada Allah atas kesalahan  mereka (murid, anak buah, jamaah, anak sendiri).
“Tradisi salafus saleh adalah saling mendoakan. Karena itu, tidak ada hasud atau dengki di antara mereka,” tuturnya.
Contohnya, Imam Syafi’i setiap hari mendoakan 80 orang sahabatnya. Imam Hanafi juga mendoakan sahabat-sahabatnya.
“Mari kita doakan anak-anak kita, juga murid-murid kita, setiap pagi dan malam,” kata Kiai Didin.
Karakter keenam, bermusyawarah. “Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, tapi beliau paling banyak bermusyawarah dengan keluarga dan sahabatnya. Seperti sabda Rasulullah, ‘Tidak akan merugi orang yang rajin bermusyawarah dan rajin istikharah,” paparnya.
Ketujuh, tawakal. Setelah segala upaya telah dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, kemudian tawakal.
“Jadi, tawakal ini adalah yang terakhir setelah berikhtiar maksimal. Tidak ada yang namanya tawakal tanpa usaha,” tegas Kiai Didin Hafidhuddin. (rep/udi)

Berita Lainnya :