Kikir? Bahaya!

Oleh H. Dwi Triyono, S.H.
Kadiv Dawah Virtual Majelis Tabligh PDM Kota Malang


Islam datang membawa dan menebar rahmah, kelembutan dan kasih sayang di seluruh alam mayapada ini. Agama ini menuntun manusia agar menjauhi kekerasan dan kejahatan. Karena rentang misi agama ini adalah hingga akhir zaman, maka tentu saja ia tidak sebatas memerankan dirinya layaknya pemadam kebakaran, yang hanya hadir saat kebakaran telah terjadi. Bahkan justru esensi utama agama ini adalah menumpas dan menghilangkan segala bentuk kejahatan dari akarnya, dari sebabnya sebab.
Maka itulah muncul sebuah peribahasa: al wiqāyah khairun minal 'ilāj - pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Sifat agama ini adalah proaktif, mendahului, pionir, inisiatif, memegang kendali dan seluruh sifat-sifat sejenisnya.

Ambillah sebuah contoh, tentang fenomena tindak kejahatan yang sangat dikenal luas di seantero dunia yaitu pembunuhan atau pertumpahan darah. Sejauh ini aparat penegak hukum lebih berfokus pada proses hukum setelah pembunuhan terjadi. Adapun sebab-sebabnya hampir tidak tersentuh oleh hukum. Seolah pembunuhan itu tak terhindarkan, dan hanya bisa memberi sanksi pidana yang dalam banyak hal ternyata tidak melahirkan efek jera, justru malah semakin menjadi-jadi kejahatannya.
Alhamdulillah, ummat ini dengan kekuatan imannya, banyak menemukan petunjuk dan bimbingan dalam memberikan solusi terbaik atas masalah-masalah sosial kemanusiaan. Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahīh nya no. 4.675 dari sahabat Jabir ibn Abdillah RA bahwa Rasūlullāh Shallallāhu Alaihi wa Sallam bersabda: ... Jauhilah kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan." (Bab Haramnya Kezhaliman Kitab Berbuat Baik, Menyambung Silaturrahmi dan Adab).
Hadits ini sangat gamblang menjelaskan bahwa kekikiran itu adalah salah satu akar utama kejahatan yang namanya pertumpahan darah saling bunuh. Hal ini memang mudah dijelaskannya. Tengoklah kepada mereka yang kikir bin pelit, nyaris tidak memiliki hubungan yang baik dengan siapapun kecuali sesama mereka yang kikir. Bahkan sesama kikir pun saling intip saling cari kelemahan dan saling menjatuhkan. Persaingan bisnis yang tidak sehat sudah menjadi gaya sehari-hari.

Maka peluang untuk merancang kejahatan berujung menghabisi nyawa lawan bisnis dan kepentingannya menjadi terbuka lebar. Orang yang kikir merupakan tanda lemahnya iman dan orang yang lemah imannya akan membuatnya menghalalkan segala cara.
Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Sehingga bagi mereka, agama bukanlah panglima. Panglimanya adalah hawa nafsunya. Hawa nafsu yang tak terkendali membuatnya mudah melakukan tindak kejahatan bahkan yang sangat keji sekalipun ternasuk baku bunuh.
Maka jelaslah bahwa kejahatan pembunuhan adalah akibat, bukan sebab. Kita mesti paham bahwa sebab itulah yang perlu kita minimalisir dan kita jauhi. Apabila kikir itu berpotensi besar untuk melahirkan kejahatan, maka kita perlu berpikir ulang, sampai kapan kita bertahan dalam kekikiran itu. Semakin kita pelihara kekikiran, maka semakin kita berpotensi besar berbuat kemaksiatan dan kejahatan. Wal 'iyādzu billāh.
Maka jika ada orang yang tidak ingin terjatuh dalam kejahatan dan kemaksiatan, sementara ia terus berada dalam kekikiran, maka itu adalah pribadi yang terbelah, split personality. Karena begitu bahayanya sifat kikir dan bakhil itulah maka agama ini sangat mendorong kepada ummatnya untuk bersedekah betapapun sulitnya hidup, betapapun miskinnya kita, betapapun beratnya bersedekah.
Sampai-sampai Rasulullah Shallallāhu Alaihi wa Sallam menyemangati agar ummatnya bersedekah meski hanya sebiji kurma, yang bila dinilai sekarang tidak sampai seribu rupiah sebagaimana sabdanya: “jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 1.328 Kitab Zakat Bab Peliharalah diri kalian dari api neraka).
Untuk mengkondisikan diri kita agar semakin dekat kepada kedermawanan, maka setidaknya selalulah untuk berdoa sebagaimana diriwayatkan dariAbu Sa'id Al Khudri, ia berkata: Rasulullah ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam pada suatu hari masuk masjid dan ternyata terdapat seorang sahabat dari anshar yang dipanggil Abu Umamah, beliau berkata: "Ada apakah gerangan aku lihat engkau duduk di masjid bukan pada waktu shalat?" Dia menjawab:kegundahan dan hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasulullah! Beliau berkata: "Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila kamu ucapkan maka Allah Azza wa jalla akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?" Dia berkata: ya wahai Rasulullah.
 Beliau bersabda: "Apabila kamu berada dipagi dan sore hari maka ucapkanlah: Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepadaMu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain. Dia berkata: maka akupun melaksanakannya dan ternyata Allah 'Azza wa Jalla menghilangkan kegundahanku dan melunasi hutang-hutangku." (Sunan Abu Dawud 1.330, derajad hadits: sakata anhu wa qad qaala fii risaalatihi li ahli makkata kullu maa sakata anhu fahuwa shaalih). Wallahu A'lam bishshawāb. (*)

Berita Lainnya :