Memaknai Kartini Dalam Perspektif Islam

 
SATIAP tanggal 21 April kita diingatkan dengan Hari Kartini sebagai penghormatan atas wujud perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita. Belakangan pergerakan wanita semakin terasa dan membawa dampak luar biasa. Bahkan sekarang, melihat kaum perempuan berada di posisi kepemimpinan bukanlah hal yang begitu tabu lagi, meskipun adat ketimuran tidak sepenuhnya punah, terutama budaya patriarki.
Kenyataannya, sejak ‘sang pahlawan kaum perempuan’ itu tiada, aksi kekerasan dan diskriminasi masih menjadi hantu bagi perempuan Indonesia. Terbukti jumlah kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya terus meningkat. Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2017, ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2016. 
Petakanya, seperti disampaikan Direktur Eksekutif Institute Perempuan Ellin Rozana, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia faktanya bisa lebih banyak dari yang tercatat. Dugaan ini cukup kuat, mengingat sampai saat ini masih banyak perempuan korban kekerasan yang enggan melapor dan mengungkapkan penderitaannya.
Kendati isu gender yang mendiskriminasi kaum perempuan sudah lama gaungnya, realitas ini tidak akan pernah redup selama praktik trafficiking, diskriminasi dalam mendapatkan pendidikan dan penghasilan, kekerasan dalam rumah tangga dan bentuk-bentuk kesewenangan lain tetap terpelihara. Maraknya kasus tindakan kekerasan terhadap kaum perempuan, baik kekerasan yang bersifat fisik maupun kekerasan yang bersifat mental, baik kekerasan yang terjadi di ruang domestik maupun di ranah publik merupakan bukti bahwa dalam banyak hal, kaum perempuan di negeri ini memang masih relatif terpinggirkan.
Zaitunah Subhan dalam buku Menggagas Fiqh Pemberdayaan Perempuan (2008) mencatat bentuk-bentuk kekerasan yang biasa disebut dengan KDRT, misalnya, berupa penganiayaan fisik seperti pukulan, tamparan, tendangan dan sebagainya, berupa penganiayaan psikis seperti penghinaan, pelecehan, ancaman, merendahkan harga diri, menceraikan dan memisahkannya dari anak-anak, serta berupa kekerasan ekonomi dengan tidak memberi nafkah, menguasai hasil kerja istri, memaksa kerja untuk suami. Juga bisa berupa kekerasan seksual seperti memaksakan istri menggugurkan kandungannya.

Berita Lainnya :