Memaknai Pertambahan Usia

 
“Hidup hanyalah kumpulan tahu-tahu. Tahu-tahu zhuhur, tahu-tahu Asar, tahu-tahu maghrib....(Waktu) ”- KH. Mustofa Bisri.
 
DETIK demi detik, menit ke jam, jam ke hari, begitu juga bulan seakan begitu cepat berganti tahun. Terasa baru kemarin tahun baru 2017, kini sudah memasuki tahun baru 2018. Baru kemarin menjadi anak-anak, kini kita telah beranjak dewasa. Tak disadari pula saat badan kita masih perkasa, kini mulai renta. 
Seolah baru kemarin duduk-duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bermain petak umpet dengan teman sebangku atau bersenda gurau di bangku kuliah. Kini sebagian kita telah di sini dengan sejuta persoalan, sebagian telah merayakan reuni alumni yang ke-lima puluh, sebagian lain telah beranak cucu dan sulit menemukan rambut hitam di kepala.
Apa yang diratapi budayawan KH. Mustofa Bisri memang benar. Pergantian tahun—Hijriyah maupun Masehi—seakan datang dengan tiba-tiba. Maka, tidak sepantasnya menyambut setiap pergantian tahun baru dengan pesta pora. Semakin bertambah usia, berarti kian berkurang jatah hidup kita di dunia. Kita senyatanya banyak merenung, introspeksi, dan berbenah diri dari segala kesalahan. Demikian hakikat hidup sukses. Bukan saja kesuksesan dunia yang selalu kita buru, namun perlu ingat pula bekal amal untuk akhirat kelak. 
 
Usia Krusial
Hidup manusia sesungguhnya memiliki terdapat tonggak-tonggak usia yang sangat krusial, di antaranya usia empat puluh tahun. Nabi Muhammad sendiri mendapat wahyu dari Allah dan diutus kepada umat manusia sebagai basyir (pembawa berita gembira) dan nadzir (pembawa berita ancaman) di usianya yang keempat puluh tahun.
Biasanya dalam usia empat puluh tahun akan tampak tanda-tanda yang menunjukkan ke mana kecenderungan seseorang yang sebenarnya, ke arah kebaikan atau kejahatan, menjadi manusia pembangun atau perusak? 
Sahabat Qatadah berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia mengambil kehati-hatian dari Allah SWT.” Bahkan, sahabat Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Siapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
Nasihat yang disampaikan kedua sahabat itu mengisyaratkan bahwa manusia harus mulai bersikap hati-hati, dan mawas diri dalam aktivitas pengabdiannya kepada Allah ketika usianya telah mencapai 40 tahun. Ia ditekankan untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan amal kebajikan yang telah dibiasakannya pada usia-usia sebelumnya. Tidak justru “tua-tua keladi”, makin tua dosanya makin menjadi-jadi.
Rasulullah pun menganjurkan umatnya agar selalu memeriksa amal perbuatannya setiap kali menyadari usianya kian bertambah. Dengan demikian, usia merupakan aset sekaligus pertanggungjawaban. Kita bisa beruntung dan celaka dengan usia panjang kita. Semuanya bergantung pada amal yang kita lakukan.
 
Klasifikasi Usia
Mengutip Prof. Komaruddin Hidayat, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, usia diklasifikasikan ke dalam tiga macam. Pertama, usia yang bersifat kronologis. Kedua, usia berdimensi intelektual psikologis. Ketiga, usia psikologis spiritual.
Usia yang bersifat kronologis dihitung berapa banyak kalender dihabiskan. Usia ini tidak mengenal kata surut. Tidak akan kembali waktu yang sudah berlalu. Datang pagi, datang siang, datang juga sore dan malam, usia ini berjalan terus dan tidak akan berulang. Ia berjalan tidak mengenal kaya, miskin, pintar ataupun bodoh. Semua mendapatkannya tanpa kecuali.
Usia kedua, yaitu usia berdimensi intelektual psikologis. Maksudnya, adalah bisa saja seseorang secara kronologis sudah tua, tapi daya berfikirnya rendah, prestasi hidupnya nol, emosinya tidak berkembang. Maka jadilah ia seperti anak-anak. Secara kronologis ia sudah tua, setidaknya dari raut wajahnya terlihat jelas. Akan tetapi, mentalnya tertinggal dengan usia kronologisnya.
Usia yang ketiga, yaitu usia psikologis spiritual. Bisa jadi, ada orang yang secara kronologis sudah tua, juga secara intelektual sudah pintar, namun ia memiliki kekurangan dalam hal spiritual. Usia spiritual ini tidak mengenal kematian, karena wilayahnya dimensi rohani. Bisa jadi, ada yang sudah meninggal, bertahun-tahun ia tidak ada di dunia, namun pengaruh ajaran spiritualnya masih terasa di masyarakat. 
Ketiga kategori usia tersebut mempertegas bahwa manusia sangat boleh jadi sama usianya, tapi berbeda-beda pencapaiannya. Kita memilih kategori usia yang mana? Hidup adalah sebuah pilihan.
Yang pasti, setiap pergeseran tahun berarti jatah hidup seseorang di bumi semakin berkurang? Maka agak aneh bila kita menyambut pergantian tahun dengan kegembiraan, kecuali selama ini usia kita dimanfaatkan dengan baik dan efisien. Kita tahu usia digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu bila kita selalu melakukan muhasabah atau evaluasi.
Minimal setahun sekali. Jika tidak, hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah, atau bahkan lebih buruk dari yang sudah. Padahal ada dawuh: “Siapa yang hari-harinya sama, dialah orang yang merugi; siapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya, celakalah orang itu.” (*)

Oleh : AHMAD FATONI, Pengajar PBA-FAI Universitas Muhammadiyah Malang

Berita Lainnya :