Membangun Mental Dermawan di Bulan Ramadan (1)


Dr. H. Abdul Adzim Irsad - Dosen UM dan Ketua Lazis Sabilillah Malang


Perang Hunain itu terjadi antara kaum Muslimin dan kaum Hawazin. Setelah Rasulullah ‎SAW membuka kota Makkah (fathu Makkah). Ternyata, kaum Hawazin merasa tidak ‎nyaman, mereka khawatir akan diperangi oleh Rasulullah SAW. Akhirnya, mereka ‎mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan perang. Mereka mengambil inisitif ‎menyerang Rasulullah SAW terlebih dahulu.‎

Wal khasil, peperangan yang dimenangkan Rasulullah SAW, dan kaum muslimin menyisakan ‎kisah menarik bagi sahabat Rasulullah SAW. Rasulullah SAW secara sengaja membagikan ‎rampasan perang (ghonimah) kepada penduduk Makkah yang sebagian besar muallaf (baru ‎masuk Islam). Sementara, penduduk Madinah (Kaum Ansor) tidak mendapat bagian ‎rampasan perang (Ghonimah).‎
Tidak dipungkiri, tidak semua Ansor orang berada (kaya). Namun, mental mereka sebagai ‎sahabat Rasulullah SAW benar-benar mental dermawan. Kaya atau melarat, mental ‎penduduk Madinah (Ansor) adalah dermawan. Sangat pantas jika Rasulullah SAW ‎mensematkan nama “Ansor” kepada mereka, yang kaum penolong.‎
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhori, telah diceritakan bahawa sahabat Saad ‎Ibn Rabi dipersaudarakan dengan Abdurahman Ibn Auf. Kemudian beliau mengatakan ‎kepada Abdurahman Ibn Auf : “Saya orang Ansor yang kaya. Saya akan membagikan separuh ‎hartaku untukmu, dan separuh untukku”. Aku juga memiliki dua istri, mana di antara dua ‎istri yang menakjubkan (menarik), akan aku cerai salah satunya. Setelah masa idah selesai, ‎akan aku nikahkan engkau dengannya”.‎

Rela membagikan harta yang dicinta, demi rasa persahabatan. Juga rela menceraikan ‎istrinya, demi sahabatnya. Walaupun kala itu, Abdurahmah Ibn Auf menolaknya. Beliau ‎memilih berdagang, dan tidak merepotkan sahabar Saad Ibn Rabi. Begitulah gambaran ‎persahabatan antara Muhajirin Makkah dan Kaum Ansor Madinah. Sekali lagi, masyarakat ‎Madinan “Mental Dermawan”.‎
Nah, tidak semua kaum Ansor itu berada (kaya). Ada juga yang melarat. Ketika Rasulullah ‎SAW membagikan Ghonimah kepada kaum Muhajirin Makkah, khususnya kepada mereka ‎yang muallaf. Maka, Kaum Ansor merasa iri dengan Muallaf Muhajirin. Kaum Ansor merasa ‎bahwa diri mereka tidak mendapat bagian. Sebagian dari mereka ada yang marah kepada ‎Rasulullah SAW, karena dirasakan sikap Rasulullah SAW kepada kaum muslim tidak adil.‎
Sebenarnya, ketika Rasulullah SAW membagi-bagikan rampasan kepada Muallaf Makkah. ‎Tiba-tiba keluar seorang pria yang diketahui namanya adalah “Dzulkhuwisirah”. Kemudian ‎pria mendekati Rasulullah SAW, lalu berkata dengan sura lantang “berbuat adilalah engkau ‎wahai Muhammad”? mendengar bentakan keras dari pria ini, Umar Ibn Al-Khattab ra, ‎marah dan segera mengeluarkan pedangnya.‎
Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada pria tersebut: “Wahai Muhammad! Bersikap ‎adillah!” Rasulullah n bersabda, “Celaka kamu! Siapakah yang akan berbuat adil jika aku ‎tidak berbuat adil?! Sungguh saya akan merugi jika saya tidak berbuat adil. Seolah-olah ‎Rasulullah SAW tidak berbuat adil baginya pria tersebut. Maka Rasul-pun menegaskan ‎bahwa dirinya adalah utusan Allah SWT, yang sudah pasti berlaku adil, dan apa yang ‎dilakukan Rasulullah SAW merupakan wahyu Allah SWT, bukan dari dirinya sendiri.‎
Ternyata pria yang membentak Rasulullah SAW itu bernama “Dzulkhuwaisirah”. Dia ‎meminta dengan suara lantang (membentak) agar Rasulullah SAW berbuat adil. Saat itu ‎juga, Umar Ibn Al-Khattab ra, mengeluarkan pedang untuk menebas leher sang pria yang ‎membentak Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah SAW tidak mengijinkannya. Kemudian ‎Rasulullah SAW berkata “akan lahir dari keturunan dia manusia paling buruk (Sarru Al-Nass). ‎(bersambung)