Menyambut Gerhana Bulan Supermoon

 
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah telah mengeluarkan pengumuman prediksi bahwa pada Rabu, 31 Januari 2018, akan terjadi gerhana bulan total. Besar kemungkinannya gerhana ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia. Hal yang menarik dari peristiwa ini adalah pada saat gerhana terjadi posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, yakni sekitar 360.000 kilometer. Hal ini akan membuat bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit malam. Para pakar astronomi menyebutnya sebagai supermoon. 
Di negeri Cina, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena seekor naga langit membanjiri sungai dengan darah lalu menelannya. Itu sebabnya orang Cina menyebut gerhana sebagai “chih” yang artinya “memakan”. Di Jepang, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena ada racun yang disebarkan ke bumi. Untuk menghindari air di bumi terkontaminasi oleh racun tersebut, maka orang-orang menutupi sumur-sumur mereka. 
Di Indonesia, khususnya Jawa, dahulu orang-orang menganggap bahwa gerhana bulan terjadi karena Batara Kala alias raksasa jahat, memakan bulan. Mereka kemudian beramai-ramai memukul kentongan pada saat gerhana untuk menakut-nakuti dan mengusir Batara Kala. Bagi orang-orang Quraisy di Arab, gerhana bulan dikaitkan dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran seseorang. Kepercayaan ini dipegang secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat di zaman itu. 
Di zaman Rasulullah SAW pun, ketika terjadi gerhana matahari yang bersamaan dengan meninggalnya putra Rasul SAW yang bernama Ibrahim, sebagian orang masih menganggap terjadinya gerhana itu karena kematian putra beliau. Semua kepercayaan itu tak lain adalah mitos atau takhayul yang karena pengetahuan masyarakat tentang alam, khususnya bumi, matahari dan rembulan belum cukup memadai. Sebagian dari mereka bahkan masih memegang kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme. Lalu bagaimanakah Islam memandang fenomena gerhana ini? 
Kepercayaan-kepercayaan seperti itu diluruskan oleh Rasulullah SAW. Dalam Islam, gerhana bulan atau matahari adalah bentuk keagungan Allah sebagai Maha Pencipta sebagaimana sabda Rasullah SAW dalam sebuah hadits diriwayatkan Bukhari: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka lakukanlah salat gerhana.” (Shahih Bukhari, 1042).
Dalam hadits tersebut ditegaskan bahwa tidak ada kaitan antara gerhana dengan meninggal atau lahirnya seseorang, baik seseorang itu dari kalangan orang-orang biasa maupun orang-orang terhormat. Tetapi sesungguhnya gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah sebagai pencipta langit dan bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya. Gerhana tidak hanya merupakan tanda-tanda keberadaan Allah, tetapi juga sekaligus tanda-tanda kekuasaan-Nya. Adanya keteraturan alam raya ini berarti adanya yang mengatur keteraturan itu. Yang Maha Mengatur itulah Tuhan, Allah SWT. 
Sungguhpun demikian, meski alam ini memiliki keteraturan, seperti setiap bulan purnama rembulan dapat dilihat secara utuh dengan sinarnya yang indah dan terang benderang dari saat tenggelamnya matahari hingga terbit kembali, selama malam itu di alam terbuka tidak terjadi kegelapan yang berarti meskipun tidak diterangi dengan alat-alat penerang. Di malam itu cahaya bulan purnama cukup terang. Tetapi pada saat-saat tertentu di malam bulan purnama bulan tidak tampak sama sekali selama beberapa waktu karena cahaya matahari terhalang bumi hingga mengakibatkan kegelapan di bulan. Inilah yang disebut gerhana bulan. 
Gerhana merupakan kejadian luar biasa yang menyimpang dari keteraturan-keteraturan yang diatur sendiri oleh Allah. Allah yang mengatur, Allah pula yang mengatur kejadian luar biasa yang menyimpang dari keteraturan-keteraturan yang ditetapkan-Nya. Ini artinya Allah Maha Berkuasa atas apa pun yang terjadi di alam raya ini. Allah adalah Raja Diraja yang tak satu pun makhluknya mampu melawan kehendak-Nya.
Peristiwa gerhana hendaklah menjadi pengetahuan sekaligus keyakinan bahwa bulan purnama dapat memancarkan cahaya indah dan terang namun lembut, itu terjadi karena Allah menghendaki demikian. Namun, jika Allah menghendaki lain, maka kejadiannya juga akan lain. Memang segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Jika Allah tidak mengizinkan maka sesuatu tidak akan terjadi. Hanya Allah yang bisa memberikan manfaat dan madharat.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW di atas, bahwa ketika terjadi gerhana, kita dianjurkan melakukan salat gerhana, maka tokoh-tokoh masyarakat, seperti kiai, ustadz dan para pengurus masjid hendaklah selalu mengikuti informasi mengenai gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari. Kegiatan salat ini akan mengalihkan masyarakat dari melakukan sesuatu yang besifat takhayul untuk kemudian melakukan ibadah sebagaimana Rasulullah SAW memberikan tuntunan dan keteladanan. (nu_online)  

Berita Lainnya :