Menyambut Tahun Baru dengan Muhasabah

Oleh : Ali Akbar bin Aqil
Guru di Pesantren Daruttauhid, Kota Malang


Salah satu masjid di kota Malang menjadwal saya untuk mengisi khutbah dan salat Jumat. Dari tiga jadwal yang diberikan ada satu tema yang menarik. Selaras dengan momentum pergantian tahun yang baru saja kita masuki. Temanya “Muhasabah Menyambut Tahun Baru.”
Momentum pergantian waktu dari hari, pekan, bulan hingga ke tahun ‘memaksa’ kita untuk mau melakukan koreksi atas kinerja kita selama ini. Seperti halnya seorang guru yang mengoreksi tugas-tugas yang dikerjakan oleh para muridnya, kita juga harus mampu mengoreksi kesalahan yang ada pada diri kita. Kita perlu bertanya, ‘Apa saja yang sudah aku kerjakan?’ ‘Apa yang masih belum aku tunaikan?’ ‘Bagaimana ke depannya aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik?’

Alkisah, suatu hari seorang tabi`in bernama Atha As-Salami, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tawaran itu dijawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya, ada cacatnya. Itulah yang menyebabkan aku menangis.”
Muhasabah merupakan keniscayaan bagi yang sadar bahwa tidaklah satu waktu berlalu kecuali ia menjadi saksi atas perbuatan kita di akhirat. Orientasi kita sebagai muslim bukan sekadar makan, minum, dan tidur. Kita harus mampu menampilkan diri sebagai sosok hamba yang memiliki hubungan baik kepada Tuhannya dan sesamanya. Jika muhasabah kita lakukan maka akan kita temukan beragam keajaiban dalam kehidupan kita.