Wujudkan Lingkungan Islami Kreatif


 
ANAK-anak menjadi garda terdepan pembangunan sebuah negara maupun daerah. Fondasi agama yang kuat sangat butuh dibentuk sejak dini. Meski begitu anak-anak tidak serta merta ditempat materi-materi teori tentang agama saja. Pasalnya menciptakan lingkungan agamis yang kreatif juga sama pentingnya dengan memberikan teori beragama secara formal. 
Hal ini memang menjadi sesuatu yang hendak diwujudkan lebih dalam pada generasi Islam saat ini. Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) Kota Malang pun melakukan upaya-upaya pendidikan “diluar kelas” untuk memberikan nilai-nilai agama yang riil kepada anak-anak. 
Salah satunya yang baru dilakukan adalah mengadakan Jambore Santri. Disana anak-anak mulai dari yang duduk di bangku SD hingga SMA dapat berbaur mengadakan kegiatan bersama selayaknya anak pramuka di alam bebas. 
Konsep yang sama seperti dilakukan anggota pramuka untuk melatih “soft skill” dari anak-anak yang mengikut ini diadopsi dalam kegiatan Jambore Santri. Bedanya, materi yang diajarkan lebih diarahkan pada nilai-nilai Islami. 
Sekretaris FKPQ Kota Malang, Syamsul Huda SPdI, kepada Malang Post menjelaskan saat ini konsep menanamkan nilai agama harus dilakukan dengan hal yang kreatif. Salah satunya mengajak mereka “belajar” dengan alam sekaligus berinteraksi lebih banyak dengan kawan-kawannya.
“Tentu saja selama kegiatan setiap kali waktu salat akan diajak salat. Tetapi pastinya seluruh peserta dan semua pembinanya ikut memberi contoh. Maka semuanya berjamaah. Ini kan secara tidak langsung menanamkan kebiasaan salat berjamaah,” ungkap Syamsul. 
Dalam kegiatan ber camping ria ini, anak-anak peserta akan melakukan kegiatan lain diluar materi agama. Contohnya mengikuti games-games yang menyenangkan seperti jelajah alam, games kerja sama atau lainnya. 
Pada kegiatan tersebut secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai agama Islam. Bagaimana caranya nilai Agama Islam yang cintai damai dan ramah dapat diterima anak-anak dengan mudah. Seperti belajar bagaimana menghargai temannya, belajar memaafkan dan berkompetisi dalam games dengan fair dan lain-lainnya.
“Tentu saja setelah game-game mereka akan mengadakan kegiatan seperti mengaji bareng. Mendengarkan ceramah dari pembina atau guru-guru santrinya. Dan memang efeknya malah sangat baik semakin banyak yang ingin ikut,” tutur Syamsul. 
Jambore santri ini baru dilakukan beberapa kali. Diharapkannya tahun depan dapat dilakukan lebih sering dengan jumlah peserta yang kian banyak pula. 
Syamsul menegaskan menanamkan nilai agama saat ini tidak harus melulu secara formal. Pasalnya mematri pola pikir beragama dengan baik pada anak-anak lebih efektif dilakukan ketika hal tersebut dipraktikan sendiri oleh mereka.
“Memperkuat Ukhuwah bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya pada hakikatnya adalah saudara. Dengan memperkuat ini kedepan mereka bisa tumbuh dengan konsep persaudaraan yang lebih besar,” pungkasnya. (ica/udi)

Berita Lainnya :