110 Inovator Indonesia karena Penelitian


SEMANGAT Kartini berkobar-kobar pada sosok Prof. Dr. Drh. Aulanni’am, DES. Wakil Rektor I Universitas Brawijaya (UB) itu  merupakan akademisi dengan sederet prestasi dan berbagai karya inovasi. Semuanya bermanfaat bagi masyarakat umum.  
Perempuan asli Tuban ini, peneliti yang telah menghasilkan berbagai karya. Di antaranya alat deteksi diabetes yang hanya butuhkan waktu beberapa detik. Yakni  KIT Immunochromatography Rapid Test Autoimmune GAD 65.
Hingga saat ini ia sudah mencatatkan setidaknya 11 paten dari hasil penelitiannya. Tahun ini juga terdapat satu produk yang digunakan oleh Bio Farma, sebagai produk nasional. Rencananya akan diresmikan pada Agustus mendatang.
Pada tahun 2018 lalu, perempuan yang akrab disapa Prof Aul ini masuk dalam 110  inovator di Indonesia. Selama ini, ia selalu masuk kategori tersebut tiap kurun dua tahun sekali. Produktivitasnya menghasilkan karya inovasi, salah satunya termotivasi untuk terus mengharumkan nama UB. “Selama masih hidup, saya akan terus meneliti,” katanya kepada Malang Post.
Sejak awal Februari lalu, ia diberi amanah sebagai Wakil Rektor I UB. Wakil rektor yang membidangi akademik dan kurikulum itu, satu-satunya perempuan yang menjabat pada jajaran Wakil Rektor di UB saat ini. Sebelumnya ia menjabat sebagai kepala program studi dan Dekan pada Fakultas Kedokteran Hewan di UB.
Gambaran perempuan tangguh sangat melekat pada Prof Aul. Bagaimana tidak, di samping berbagai karya inovasi dari penelitiannya, ia juga berperan sebagai inisiator pada sebuah tim penelitian.
Jadi, berbagai ide gagasan inovasi selalu ia sampaikan pada tim tersebut. Sehingga semangat produktivitasnya juga menyebar pada rekan-rekan satu timnya. Prof Aul mengatakan, penelitian yang ia hasilkan menjadi salah satu bentuk eksistensinya di tengah masyarakat.
Selain itu, penelitiannya tak sedikit yang digunakan oleh para peneliti lain. Sehingga inovasinya masih dapat terus dikembangkan di masa mendatang.“Saya senang penelitian saya sudah banyak digunakan oleh peneliti lain. Ini jadi rekam jejak eksistensi saya di masa yang akan datang,” terangnya.
Menjadi seorang akdemisi yang menduduki jabatan fungsional dan juga peneliti, membuatnya harus bisa mengatur waktu. “Saya mengandalkan bantuan dari asisten yang saya rekrut untuk mengorganisir waktu dan pekerjaan sehingga dapat berjalan baik,”  katanya.
Untuk mengkoreksi disertasi hingga skripsi, selalu dilakukan selepas salat malam. Sehingga waktu di kampus digunakan untuk tugas-tugas fungsionalnya di bidang akademik.
Pemanfaatan waktu yang baik, terinspirasi dari sosok sang ibu yang bisa merawat 11 utra-putri termasuk dirinya. Ibunya juga menjadi sosok perempuan yang sangat ia kagumi.
Sang ibu menjadi sosok yang mendorong hingga menjadi sosok Prof Aul seperti sekarang.Ia punya pandangan tersendiri tentang Hari Kartini.“Tidak hanya untuk para perempuan, tapi juga untuk para pria yang harus bersinergi dalam mewujudkan pemberdayaan menurut Kartini,” ujarnya.
Peran perempuan menurut Prof Aul pada masa kini sudah tidak perlu diragukan lagi. Itu karena sudah banyak perempuan yang menempati peran strategis. Oleh karenanya, penting bagi kaum perempuan untuk terus menunjukkan eksistensi di tengah masyarakat. Tapi tak boleh menentang kodrat utama sebagai perempuan.
Menurut Prof Aul, sangat perlu untuk dipahami atas pemaknaan dari kesetaraan gender antara kaum perempuan dengan kaum pria. Makna kesetaraan gender tidak semata-mata perempuan disamakan dalam segala lini dengan pria. Namun makna dari kesetaraan justru adalah porsi yang sesuai bagi kaum perempuan maupun kaum pria. (mg3/van)