Awalnya Takut Jarum, Kini 32 Tahun Donor Darah


HARI  Palang Merah Internasional yang diperingati pada 8 Mei 2019, menjadi monumen tahunan bagi para pejuang kemanusiaan tanpa pamrih di Malang Raya. Contohnya saja, Enny Yulistyorini, warga Jalan Gajahmada gang Belik, Sisir, Kota Batu.
Kesehariannya, wanita 54 tahun ini menjalankan usaha salon. Tapi, di luar usaha salon, Enny adalah seorang pendonor darah sukarela yang sudah mencatatkan 106 kali donor. Dia juga memegang tanda kehormatan Satyalencana Kebaktian Sosial Pendonor Darah Sukarela 100 Kali tahun 2018. Kehormatan di bidang kemanusiaan ini, diserahkan Wapres RI, Jusuf Kalla di Grand Sahid Hotel, Jakarta, awal tahun 2019.
“27 Januari 2019, saya menjadi satu-satunya warga Kota Batu yang menerima penghargaan donor darah 100 kali dari Pak Wapres Jusuf Kalla di Jakarta,” kata Enny kepada Malang Post.
Penghargaan yang diterimanya dari Wapres RI itu merupakan penanda  32 tahun hidup Enny sebagai pendonor darah. Ia sudah mulai mendonor darah sejak masih SMA. Yakni, mulai tahun 1985. Namun, Enny baru tercatat mendonorkan darah sejak usia 22 tahun. Selama 32 tahun berikutnya, Enny tidak pernah melewatkan masa donor darah. Tiap tiga bulan sekali, dia mendatangi kantor PMI untuk menyumbangkan darahnya yang bergolongan O.
Selama tiga dekade ini pula, ibu satu anak tersebut mencurahkan hidupnya bagi kegiatan sosial kemanusiaan. “Saya tergerak menjadi berkat bagi orang banyak. Apa yang saya punya, ya darah ini. Setetes darah saya, bisa berguna bagi banyak orang,” katanya.
Alumnus SDK dan SMPK Sang Timur di Jalan Panglima Sudirman Batu ini tidak pernah berharap apa-apa ketika memulai kegiatannya menjadi pendonor. Wanita yang juga aktif di kumpulan Perhimpunan Pendonor Darah Indonesia (PDDI) ini, hanya bermodalkan ketelatenan untuk menjalani kehidupan sebagai pendonor darah.
“Yang penting telaten. Saya sendiri tidak berpikir akan menerima penghargaan seperti ini. Motivasi saya sederhana, hidup saya harus menjadi berkat bagi orang lain. Apalagi, donor darah juga memberi manfaat bagi kesehatan,” sambung Enny.
Dia mendonorkan darahnya, setiap dua setengah bulan. Awal mendonorkan darah, Enny mengakui pernah takut pada jarum suntik. Apalagi, jarum suntik yang besar dan akan ditusukkan pada urat nadi, membuatnya lemas. Tapi, setelah menjalani donor darah pertamanya, Enny tidak lagi memiliki rasa takut. Sebaliknya, dia bersemangat menjadi pendonor darah tetap untuk PMI.
“Sudah 106 kali, sudah tidak ada rasa takut-takut lagi. Saya merasa dampak dan manfaat kesehatan dari donor darah, membuat saya rutin melakukan donor darah,” pungkasnya. (fin/van)